Tuesday, 25 June 2024

Melayani Tamu Allah: Catatan Satgas Jamarat

Rangkaian puncak ibadah haji tahun 2024 berlangsung pada 14–19 Juni atau 8–13 Zulhijah. Sebagai bagian dari persiapan, para petugas haji diberangkatkan lebih awal, termasuk saya dan tim, yang mulai bertugas sejak 7 Juni 2024.

Persiapan di Arafah: Menyambut Jamaah dengan Sepenuh Hati

Memasuki puncak haji, pemerintah telah menyiapkan berbagai layanan agar jamaah dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk, lancar, dan sehat. Saya, yang sebelumnya bertugas di sektor pelayanan konsumsi, bersama teman-teman Satgas Jamarat, berangkat ke Arafah pada 7 Zulhijah. Tugas kami di sana adalah memastikan kesiapan layanan akomodasi bagi jamaah, seperti tenda, karpet, AC, listrik, dan konsumsi.

Sore itu, kami meninggalkan Makkah menuju Arafah bersama para petugas lainnya. Bagi saya, yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Arafah, rasa syukur tak henti-hentinya terucap. Bisa melayani tamu Allah sekaligus berkesempatan melaksanakan rukun dan wajib haji di tengah tugas adalah nikmat luar biasa.

Di Arafah, saya bertugas di Maktab 58. Suhu mencapai hampir 40 derajat Celsius, tetapi semangat kami untuk melayani jamaah tetap menyala. Pada 8 Zulhijah pukul 06.00, jamaah mulai bergeser dari sektor menuju Arafah. Saya dan tim bergantian berjaga di gerbang masuk bersama Syarikah Arab Saudi untuk memastikan jumlah jamaah sesuai kuota.

Melihat wajah-wajah jamaah yang penuh semangat dan sehat membuat hati kami bahagia. Jamaah lansia, risiko tinggi (risti), dan yang sedang sakit menjadi prioritas utama untuk segera dibantu menuju tenda agar dapat beristirahat.

Momen Wukuf: Introspeksi dan Kedekatan dengan Allah

Pada 9 Zulhijah, saat wukuf tiba, jamaah dan petugas mengenakan ihram, berkumpul di dalam tenda untuk berdiam diri, merenung, dan berdoa. Arafah bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi juga memiliki makna mendalam: mengingat kefanaan dunia, kesetaraan di hadapan Allah, serta kesempatan untuk introspeksi dan taubat.

Dalam keheningan Padang Arafah, setiap jamaah diajak untuk mengenali dirinya sendiri dan memperkuat hubungan dengan Allah. Momen ini begitu sakral, mengingatkan kita bahwa di hadapan-Nya, semua manusia sama—tanpa pangkat, tanpa jabatan, hanya seorang hamba yang berharap ampunan dan ridha-Nya.

Dari Arafah ke Muzdalifah dan Mina: Ujian Fisik dan Kesabaran

Setelah wukuf, petugas mulai mengatur pergerakan jamaah menuju Muzdalifah, lalu Mina. Pada tahun 2024, pemerintah menerapkan konsep murur, yaitu mabit (bermalam) di dalam bus saat melewati Muzdalifah, sebelum langsung menuju Mina. Kebijakan ini diambil demi keselamatan jamaah, terutama lansia dan risti, serta petugas yang harus segera menyiapkan akomodasi di Mina.
Di Mina, kami langsung mengecek kesiapan fasilitas: tenda, air, AC, karpet, WC, serta konsumsi jamaah. Suhu siang hari begitu terik, namun kami tetap semangat melayani. Mina menjadi puncak ibadah haji yang menguji kesabaran dan ketahanan fisik, baik bagi jamaah maupun petugas.
Berbeda dengan Arafah, di mana jamaah berdiam diri dalam tenda, di Mina mereka harus menjalankan ibadah lempar jumrah di tiga lokasi selama hari-hari tasyrik. Perjalanan pulang-pergi dari maktab ke Jamarat bisa mencapai belasan kilometer, menguras tenaga dan membutuhkan kesiapan fisik yang prima.

Satgas Jamarat: Mengawal Perjalanan Ibadah yang Penuh Tantangan

Di Mina, saya bertugas sebagai Satgas Jamarat. Petugas ini ditempatkan di sepanjang rute menuju Jamarat untuk membantu jamaah yang tersesat, kelelahan, atau mengalami kendala kesehatan. Mina adalah wilayah yang luas, dan lempar jumrah adalah bagian wajib dalam ibadah haji. Setiap jamaah harus melewati tiga lokasi jumrah: Aqabah, Ula, dan Wusta, dengan perjalanan pulang-pergi sejauh sekitar 14 km.

Bagi kami, petugas haji, Mina adalah ujian kesabaran dan dedikasi. Di tengah lelah melayani, kami tetap harus menjalankan ibadah wajib haji. Namun, keikhlasan membuat segalanya terasa ringan. Delapan hari di Mina menjadi pengalaman berharga, penuh suka dan duka dalam melayani tamu Allah.
Di postingan berikutnya, saya akan berbagi cerita tentang beberapa jamaah yang kami bantu di Mina—dari lansia yang tersesat, jamaah dengan demensia, hingga orang tua yang tertinggal rombongan. Semoga kisah-kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.

Melayani tamu Allah bukan sekadar tugas, tetapi juga ibadah. Semoga Allah menerima amal kita semua.




Makkah, 25 Juni 2024
Catatan Satgas Jamarat

Monday, 10 June 2024

Pergi Ke Baitullah Pada Kesempatan dan Waktu Istimewa

 *Catatan Petugas Haji 2024* (Bagian 1)


Penggalaman spiritual yang luar biasa dipertengahan tahun Bulan Juli 2024 lalu, bisa pergi ke Baitullah tidak hanya melaksanakan rukun islam yang ke 5 tapi kesempatan yang istimewa melayani Tamu Allah sebagai Petugas Haji Indonesia.

Menjadi Petugas Haji adalah pengalaman luar biasa bagi saya, bukan hanya secara spiritual tetapi juga emosional. Tahun 2024 ini, Allah SWT telah memberikan rezeki yang tak ternilai dengan kesempatan ini. Saya yakin bahwa Allah tidak pernah tidur dan selalu mendengar setiap doa hamba-Nya. Hanya saja, waktu yang tepat adalah rahasia Allah semata

Tentu saja, kesempatan menjadi Pelayan Tamu Allah ini bukanlah sesuatu yang datang begitu saja. Ada usaha dan doa yang terus menerus saya panjatkan. Saya tahu banyak di antara kita yang ingin menjadi petugas haji, pergi ke Baitullah, bukan hanya untuk bertugas, tetapi juga untuk melaksanakan Rukun Islam kelima, yakni menunaikan haji ke Tanah Suci. Yakinlah, ketika Allah memanggil kita untuk mengunjungi Rumah-Nya, Dia akan memudahkan segalanya.

Selama hampir 34 tahun, saya belum pernah menginjakkan kaki di Tanah Suci. Sebagai perempuan pekerja keras sejak muda, alhamdulillah, tabungan saya sebenarnya cukup untuk pergi umrah. Namun, tanpa keinginan yang kuat dan panggilan dari Allah, saya tak pernah tergerak untuk berangkat. Keyakinan ini semakin kuat ketika, tiga tahun terakhir, setelah berkeluarga dan memiliki satu anak, keinginan untuk berziarah ke Makkah dan Madinah semakin besar. Berkali-kali saya memimpikan berada di bawah Kakbah, tapi suami saya selalu menekankan bahwa kami harus menunaikan kewajiban haji terlebih dahulu.

Suami saya selalu berkata, “Kita niatkan untuk menunaikan kewajiban ini terlebih dahulu. InsyaAllah, pasti ada jalan dan kemudahan untuk ke Tanah Suci.” Dengan antrean haji di Jawa Timur yang saat ini hampir mencapai 35 tahun, akhirnya pada tahun 2023 tabungan kami cukup untuk mendaftarkan dua porsi haji. Keyakinan kami adalah bahwa Allah akan selalu memberikan jalan dan waktu yang tepat.

Pada akhir tahun 2023, saya mengikuti tes seleksi untuk menjadi Petugas Haji. Saya melengkapi berbagai persyaratan yang dibutuhkan, mulai dari paspor, surat rekomendasi, dan dokumen lainnya. (Bagian ini akan saya tuliskan lebih lanjut dalam “Catatan Petugas Haji, Bagian 2”).

Alhamdulillah, saya berhasil lolos tes administrasi dan melanjutkan ke tahap tes CAT secara daring di Kantor Kemenag Sidoarjo. Saya mempersiapkan diri dengan membaca berbagai regulasi terkait ibadah haji, rukun dan syarat haji, moderasi beragama, serta wawasan kebangsaan.

Namun, saya belum berhasil lanjut ke tahap wawancara. Meskipun sudah berusaha, saya hanya bisa pasrah, mungkin belum saatnya Allah memanggil saya ke rumah-Nya. Yang ada dalam benak saya saat itu hanyalah keinginan kuat untuk bisa berkunjung ke Baitullah. Bersama anak saya yang berusia empat tahun, setiap malam sebelum tidur saya membaca talbiyah dan memberikan afirmasi positif agar Allah SWT berkenan memanggil saya.

Keinginan kuat itu semakin membuncah hingga akhirnya saya meminta izin kepada suami untuk melakukan reservasi perjalanan umrah di salah satu travel. Karena suami tidak bisa cuti, saya pun mengutarakan niat untuk mengajak ibu saya menunaikan ibadah umrah bersama.

Percakapan setelah Maghrib itu berlangsung dalam keheningan. Saya bertanya pada ibu mengenai tabungan yang beliau miliki, untuk mengetahui apakah cukup jika digunakan untuk berangkat ke Tanah Suci. Ibu menjawab dengan jujur bahwa tabungannya tidak banyak dan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Mendengar hal tersebut, saya berkata, "Mau berangkat umrah bareng aku, Bu? Aku yang akan mengurus semua biayanya, doakan semoga rezekiku lancar." Sama seperti saya, ibu pun belum pernah menginjakkan kaki di Tanah Suci. Saya pun berharap Allah SWT memberikan kesempatan bagi saya untuk berangkat bersama beliau ke Baitullah.

Rezeki sempat tertunda, namun Allah SWT memberikan kejutan yang luar biasa. Pada pertengahan Mei 2024, dering telepon membangunkan harapan saya; saya dinyatakan lolos rekrutmen petugas haji dan diminta segera mengurus kelengkapan dokumen sebelum bimbingan teknis di Jakarta.

Sujud syukur dan tangis haru pun mengalir begitu saja. Saya segera menelepon ibu dan memberitahukan bahwa saya lolos dan akan mengurus segala persyaratan. Allah Maha Baik, Allah tahu kapan waktu terbaik untuk kita. Kita hanya perlu terus berusaha dan berdoa. Ternyata, pada tahun 2024 ada tambahan kuota 500 petugas haji Indonesia, dan Qadarullah nama saya termasuk dalam daftar tersebut. Pada tanggal 1 Juni 2024, bersama para pelayan tamu Allah, saya berangkat menuju Makkah.

Semoga kisah ini semakin menguatkan keyakinan kita bahwa segala sesuatu datang pada waktu yang terbaik menurut Allah. Berdoa dan berusaha adalah bagian dari ikhtiar kita, dan Allah SWT pasti mendengar setiap doa hamba-Nya.

Makkah, 10 Juni 2024