Tuesday, 7 June 2022

Peluncuran Pita Lila Keluarga di Sidoarjo : Anak Syahda Perwakilan Balita Sidoarjo

Cerita Syahda 1

Halo Bunda Hebat di seluruh Negeri, Salam Bahagia!

Pada rubrik Cerita Syahda, saya akan menuliskan beberapa aktivitas anak kami Syahda Naishadira Zuhri yang saat ini usianya memasuki 2,5 tahun. Memang betul, mengasuh anak secara langsung meskipun terkadang lelah, tak terasa anak begitu cepat mereka tumbuh. Si mamak pun mulai melow memikirkan anaknya sudah besar dan sebentar lagi akan memasuki dunia pendidikan (sekolah).

Dibeberapa kesempatan cerita sebelumnya, bahwa anak kami terlahir dan tumbuh dimasa pandemi. Bunda hebat sekalian pasti faham kan, dimasa-masa sulit tersebut interikasi dengan orang lain dan semua aktivitas dibatasi bahkan hampir tidak bisa bersilaturahim dengan orang lain, hanya keluarga inti di rumah. 

Kondisi tersebut membuat anak kurang mengeksplorasi lingkungan luar dan interaksi dengan orang lain berkurang, sekolah saja online ya bund, apalagi yang namanya arisan, nongki-nongki sudah tidak ada lagi 2 tahun terakhir.huhuu, mama hebat sekalian pasti jenuh di rumah, yaa kan? samalah dengan mama syahda.hehe

Disaat anak tidak bisa berinteraksi dengan orang lain hanya dengan orantua, dan keluarga inti di rumah, Anak Syahda yang baru berusia 2 tahun tentu rasa takut dengan orang lain cukup tinggi, hanya ingin bersama mama, kakek, nenek dan orang yang kenal saja. Ada rasa khawatir sebagai orangtua anak tidak bisa bersosialisasi dengan orang lain. 


Dari kondisi tersebut, sebagai orangtua terus mengupayakan anak bisa memupuk rasa percaya dirinya, dimulai dari hal-hal terkecil. Dan kesempatan itu akhirnya datang, ketika anak Syahda sebagai perwakilan Balita Sidoarjo dalam program peluncuran pita Lila keluarga yang diselenggarakan oleh UNICEF, TP PKK Kabupaten Sidoarjo dan Dinas Kesehatan Kab Sidoarjo.

Apa itu Pita LiLa Keluarga?
 
Lingkar Lengan Atas (LiLa) adalah bagian dari pemantauan dini status gizi anak. Program ini diharapkan akan menurunkan kasus Malnutrisi Energi Protein (MEP) atau yang disebut kurang gizi dan gizi buruk. Pengukuran menggunakan Pita Lila merupakan strategi pemberdayaan masyarakat, dimana keluarga dapat menjadi detektor pertama kejadian kasus kurang gizi akut balita di dalam keluarga. Sehingga jika keluarga bisa mendeteksi dini, konsekuensi serius akibat kekurangan gizi akut dapat dicegah.


Foto bersama Ibu Bupati Sa'adah Ahmad Muhdlor, Ibu Wakil Bupati Sriatun Subandi, UNICEF dan Dinas Kesehatan Kab.Sidoarjo



Bersama empat perwakilan Balita, kami orangtua diminta kedepan sebagai contoh bagaimana teknis pengukuran Pita Lila yang benar, serta bagaimana cara menghitung angka yang tertera pada Pita Lila menunjukkan status gizi pada anak kita. Pengukuran LiLA dilakukan dengan menggunakan pita dengan indikator warna merah, kuning, dan hijau—warna-warna ini menandakan risiko kurang gizi yang dialami anak. Warna merah menandai kondisi anak parah dan membutuhkan perawatan segera. Warna kuning berarti anak mengalami kurus akut, sementara warna hijau menandakan anak sehat.

Awalnya anak Syahda sangat antusias ketika menunggu dipanggil kedepan panggung. Aku sangat antusias didepan banyak orang meskipun tidak mau bersalaman dengan ibu-ibu pengurus PKK yang sedang hadir di acara peluncuran Pita Lila. Pada saat Ibu Bupati Sidoarjo Sa'adah Ahmad Muhdlor dan tim UNICEF mendatangi anak Syahda dengan membawa pita Lila, Syahda malu dan menangis ketika lengannya dipegang orang lain, serta melihat puluhan mata menyaksikan dia berdiri di depan panggung. 

Setelah melihat banyak orang, dan sesi pengukuran lila selesai meskipun begitu hectic dan si anak syahda nempol 'ngandol" mamanya, status gizi Syahda baik dan tidak menunjukkan stunting dan gizi buruk. Alhamdulilah.

Demikian cerita Syahda perdana tampil di depan umum dengan disaksikan puluhan pasang mata. Sebagai orangtua, kami tidak pernah memaksakan anak, hanya memberikan pengalaman yang sekiranya nanti bisa membuat dia tampil percaya diri dan bisa mengekplorasi kemampuannya dengan baik.





Sekian,
kiss buat dedek Syahda yang sudah berani tampi hari ini... Love Mama




Monday, 31 January 2022

Gentle Weaning With Love, Menyapih Anak Dengan Pendekatan Komunikatif Tanpa Paksaan

Seperti halnya memberikan ASI ketika anak lahir hingga 24 bulan. Meyapih juga membutuhkan tekad dan kerja keras bagi seorang Ibu. Takut gagal dan menimbulkan trauma bagi si anak, komunikasi dan menyapih dengan lembut (gentle weaning) bisa menjadi alternatif bunda

Setelah hampir 24 bulan berusaha memenuhi kebutuhan ASI anak Syahda, kini saatnya harus menyapih anak. Ada perasaan sedih dan was-was tentunya bagi saya yang baru mempunyai satu anak. Jika mendengar cerita teman dan ibu-ibu lainnya, menyapih anak bisa berlangsung lama maupun sebentar, hal ini tergantung bagaimana si ibu, si anak juga lingkungan sekitarnya.

Menyapih anak merupakan tugas lanjutan bagi orangtua khususnya seorang ibu untuk mendukung perkembangan anak setelah si kecil mengenal  ASI dan makanan padat. Penerapan fase menyapih pada anak setiap orang berbeda dan terkadang mudah, maupun terkadang menjadi hal yang sulit dilakukan bagi ibu dan anaknya. Itu sebabnya terkadang ada beberapa ibu yang masih menyusui meskipun usia si kecil sudah lebih dua tahun.

Jika si kecil diberikan full ASI baik DBF maupun Pumping sampai usia 24 bulan, menyapih bisa memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi ketimbang anak yang hanya meminum ASI dalam kurun waktu yang singkat dan didampingi dengan minuman yang lain. Orangtua khususnya Ibu harus benar-benar membutuhkan teknik dan trik khusus agar anak bisa lepas ASI tanpa paksaan dan trauma.

Bagi saya, menyapih anak bukan hal yang mudah dilakukan, selain harus memikirkan strategi yang tepat agar anak bisa lepas ASI, tapi juga tentang psikologis saya juga anak. Memberikan full ASI membuat kedekatan anak dan ibu semakin kuat. Hubungan intim ini hanya dimiliki keduanya. Sehingga ketika anak lepas ASI pun, sang ibu merasa sedih dan ada sebagian dirinya hilang.

Syahda Naishadira Zuhri usia 25 Bulan

Ajak Anak Berkomunikasi

Saat ini anak Syahda berusia 25 bulan. Bagi saya, seorang ibu pekerja sedikit was-was ketika anak Syahda memasuki usia 22 bulan intensitas menyusui (DBF) semakin sering, pasokan ASI saya pun masih deras dan cukup banyak, meskipun tidak full ASI, sejak usia 18 bulan sudah saya berikan susu formula sebagai pendukung kebutuhan gizi Anak Syahda.

Kedekatan saya dengan anakpun sangat intens, setiap malam DBF dan tidur bersama saya, dimoment tersebut saya selalu mengajak anak Syahda komunikasi. Salah satunya "Dek, nanti setelah 2 tahun tidak boleh nenen yaa,". "Dek Nanti habis ulang tahun, sudah besar ndak boleh Nenen ya," hampir setiap hari kata-kata tersebut saya lontarkan sebelum tidur. Anak Syahda termasuk anak yang cepat respon dan kosakata komunikasinya cukup baik, dia selalu menjawab "iya", "engge, ndak nenen,". Kata-kata tersebut melegakan saya, semoga anak Syahda mengerti dan mau membantu saya dalam proses menyapih.

Komunikasi intens saya lakukan hingga akhirnya menjelang 2 tahun usianya. Beberapa dari teman mengatakan kepada saya, sat menyapih tidak harus 24 bulan tepat usianya, biarkan anak siap dengan sendirinya. Tapi, bagi saya jika menunggu anak siap, dan tanpa ada upaya apapun nanti anak akan semakin manja dan susah untuk lepas ASi. Selain itu, di keluarga saya, salah satu anak saudara baru 3 tahun lepas ASi, membuat saya khawatir anak Syahda mengalami demikian. Selain anak akan semakin manja, WHO merekomendasikan pemberian ASI pada anak sampai 2 tahun, dan juga anak yang disusui hingga usia 24 tahun diberi ASI sampai kenyang pada malam hari, frekuensi menyusui tinggi membuat sulitnya membersihkan gigi. Penelitian juga mencatat, menyusui selama 12 hingga 23 bulan tak membawa resiko gigi berlubang. Jadi, masalah gigi berlubang beresiko terjadi pada anak dususui dalam kurun waktu 24 bulan atau lebih.

Genap 2 tahun 5 Januari 2022 ternyata anak Syahda semakin rewel dan ingin nenen terus ketika saya di rumah. Saya pun tidak tega untuk tidak memberikan ASI saat dia meminta. Berdahil takut rewel dan nangis ketika malam hari, akhirnya ASi pun saya berikan.

Saat itu perayaan ulang tahun ke 2 anak Syahda memang sedikit mundur, komunikasi terus saya lakukan, karena belum berhasil akhirnya dendan cara kuno saya melakukan trik dengan memberikan minyak kayu putih diputing saya. Awalnya berhasil tidak mau nenen karena anak Syahda bilang bau dan tidak suka bau minyak kayu putih, namun lagi-lagi tidak berhasil. Di malam hari ia tetap DBF. (Coba lagi Bund..hehhe)

Butuh niat dan tekad yang kuat bagi seorang ibu agar anak bisa lepas ASI tanpa trauma dan membuat sang anak menangis. AKhirnya perayaan ulang tahun anak Syahda berlangsung tanggal 10 Janauri 2022, trik minyak kayu putih terus saya gunakan, tanpa paksaan, dan dengan lembut mengalihkan permintaan ASi dengan susu dot, teh, air putih dll Anak Syahda perlahan tidak meminta untuk nenen, berdalil "bau" tidak mau nenen..heheh

Sedari awal saya bertekat jika menyapih anak, saya tidak ingin anak trauma dan selalu menangis. Teknik Gentle Weaning/Weaning With Love bisa diterapkan Bunda.

Dari kisah ini pun saya belajar memahami anak. Ketika saya ajak komunikasi hampir 2 bulan untuk proses menyapih, ternyata anak sudah menyiapkan dirinya sendiri, jadi tidak perlu paksaan dari orangtua khususnya ibu, yang perlu dilakukan adalah menata niat dan sabar.

Sebagai ganti dari keberhasilan anak bisa lepas asi dengan teknik Gentle Weaning, anak menjadi lebih mandiri, meskipun butuh beberapa minggu untuk menyesuaikan diri ketika malam hari yang terbiasa minum ASi dengan DBF, ketika sudah lepas ASI ia mencari "tandon" ASI sekarang tidak. Butuh waktu untuk si mamak harus begadang mengendong si kecil karena menangis. Namun, proses tersebut tidak akan selamanya, anak bisa lebih mandiri dengan proses tersebut.


Semoga bermanfaat!

Birthday Party Syahda 10 Januari 2022




Thursday, 30 September 2021

GOWES, Melihat Produksi Panci Dandang di Kecamatan Porong, Sidoarjo!


Sebuah gudang besar terlihat beberapa ibu-ibu sedang duduk lihai mengopeasikan sebuah mesin dan membawa bongkahan aluminium. Dengan cekatan ditambah dengan latarbelakang bunyi khas prang-prang-prang, tak memperdulikan kami yang datang bergerombol untuk melihat proses pembuatan panci dandang serta ingin berbelanja perabot rumah tangga.

Beberapa waktu lalu, tepatnya 25 September 2021, saya berkesempatan  berkunjung ke daerah sentra pembuatan Panci, Dandang dan perabot lainnya  yang terbuat dari aluminium di Kecamatan Porong.

Mungkin tidak banyak orang lain tahu, bahwa Kecamatan yang lebih dikenal dengan wisata Lumpur Lapindo ini banyak warganya memproduksi panci, atau  pengrajin panci. Salah satunya adalah Desa Kebakalan.

Saat itu, saya gowes dari alun-alun Sidoarjo menuju Sentra Pengrajin  Panci Di Desa Kebakalan. Tentunya saya tidak sendiri, bersama Ibu Bupati  Sidoarjo Sa'adah Ahmad Muhdlor dan Pegurus TP PKK Kabupaten dan Kecamatan. Istimewa sekali  gowes kali ini karena kita juga melipir ke Sentra Pembuatan perabot rumah  tangga, ibu-ibu newbie seperti saya yang gemar mengumpulkan perabot rumah  tangga padahal belum tahu kapan dan memasak apa adalah kegiatan yang  menyenangkan.Hehehe

Bergerak dari Pendopo Alun-alun melawati jalan utama Sidoarjo-Porong Desa Kebakalan, total kurang lebih 17 kilometer kami gowes, lumayan  membakar kalori meskipun sedikit ngos-ngosan tapi tetap terlihat tegar  takut malu dengan ibu-ibu yang lain..Hihi

Minggir, emak-emak mau lewat...hehe


Dirintis 20 Tahun Lalu, Pasang Surut Usaha

Kali kedua menginjakkan kaki di Desa Kebakalan, sebelumnya saya dan ibu  pengurus TP PKK Kabupaten Sidoarjo memberikan bantuan sosial ke daerah  ini, namun tidak berkesempatan untuk melihat produksi panci saat itu.

Salah satu pengrajin panci dandang yang kami datangi adalah Ibu  Khalimatus Sa'diyah, ia memulai bisnisnya kurang lebih 20 tahun. Saat  datang ke pabrik pembuatan panci dandang milikya terus terang saya takjub  karena di daerah ini benar-benar tidak terjangkau, masuk gang kecil dan  ternyata da 3 bangunan besar dengan berbagai macam bahan dan mesin-mesin  pembuat panci dan dandang.

Ibu Khalimatus Sa'diyah bercerita bahwa usaha yang ia mulai 20 tahun lalu  merupakan usaha keluarga, belum lama suaminya meninggal sehingga sekarang  ia dan anak pertama mulai mengurus usaha ini. Pasang surut bisnis telah  ia rasakan selama ini, dan yang paling terasa adalah saat pandemi Covid- 19. Tidak hanya merosotnya omzet yang ia dapat namun juga harus  kehilangan partner hidup, yaitu suaminya.

Usaha milik Ibu Sa'daiyah ini salah satu terbesar di Kecamatan Porong,  beberapa Desa juga memproduksi barang serupa. Dalam bisnisnya perempuan  yang akrab disapa Bu diyah ini memperdayakan warga sekitar terutama ibu- ibu hampir 80 persen. Bisnis yang ia bangun dengan keluarga tidak hanya  bertujuan untuk keuntungan semata namun bisa bermanfaat untuk orang lain,  khususnya tetangga mereka.

Didalam teori sosial, bisa dikatakan sebagai sosiopleneur, kegiatan  berwirausaha berbasis bisnis dengan misi utama menciptakan Social Impact,  yang meningkatkan harkat dan taraf hidup masyarakat kelas bawah. Misi  sociopreneur adalah memandirikan masyarakat kelas bawah. Bisnis dalam  sociopreneur bukan untuk profit semata. Kebermanfaatan bagi masyarakat  atau pelaku usaha lain dalam rantai nilai / lingkungan sekitar adalah  prioritasnya. 


Pandemi Covid-19 berdampak buruk diberbagai sektor terutama Ekonomi, hal  ini juga dirasakan oleh usaha panci milik Ibu Sa'diyah. Sebelum pandemi  ia bisa memproduksi panci dan dandang dengan berbagai ukuran sampai 5.000   pcs, namun saat pandemi permintaan menurun menjadi 1.500 pcs per hari.  Tidak hanya itu, Sa'diyah juga harus megurangi jumlah karyawannya dari 60  menjadi 30 orang dan tentunya ibu-ibu masih mendominasi.

Dukungan Pemerintah dan Masyarakat

Semangat berbisnis dan memberdayakan masyarakat yang diakukan Ibu  Sa'diyah dan keluarga harus diapresiasi, dikondisi sulit karena dampak  pandemi covid-19 bisnisnya masih tetap eksis dan produktif. Panci dan dandang milik Ibu Sa'diyah lebih banyak dikirim di luar kota  ketimbang masyarakat lokal seperti Kediri, Jombang, Madiun dan luar jawa  seperti Lombok dan Kalimatan.

Hal ini menjadi catatan bagi saya dan masyarakat lokal. Seharusnya kita  dukung, kita beli dan kita cintai produksi barang lokal bukan malah  membeli produk milik daerah lain. Denagan bangga dan memakai barang lokal  memberikan kotribusi perekonomian dan semangat kepada pelaku usaha untuk  terus berinovasi dalam usahanya.

Selain itu dipihak pemilik kebijakan, Ibu Sa'diyah juga menjelaskan bahwa  sempat Kecamatan Porong khususnya Desa Kebakalan dinobatkan menjadi  Sentra UMKM Pengrajin Panci, namun sudah beberapa tahun kebalang, sama  sekali tidak ada pembinaan maupun kunjungan ke desa atau usaha mereka.

Kedatangan Ibu Bupati Sa'adah Ahmad Muhdlor waktu itu menjadi angin segar  bagi para pengrajin Panci. Pasalnya, pihak pemerintah kKabupaten akan  menggalakkan geliat UMKM dan pembuatan sentra umkm lagi. Kita akan tunggu  dan semoga akan segera terealisasi. Amin


Hanya sebuah catatan perjalanan!