Sunday, 17 April 2016

Aku, Laki-Laki Bermata Cokelat Dan Ibu

Aku, Laki-Laki Bermata Cokelat
Dan Ibunya

Sore itu, setelah 3 jam lebih duduk di atas kendaraan roda dua dengan laki-laki bermata cokelat menggengam stang motor dan hampir dalam perjalanan tak ada percakapan diantara kita. Hanya sekali-kali mengobrol. Di situasi seperti ini aku membenarkan bahwa dirinya pendiam, terkadang.

Aku turun dari atas motor,  Rumah asing yang tak pernah aku singgahi, daerah asing yang sekalipun tak pernah aku datangi. Dari depan pintu aku diam, sedikit takut, ragu tuk masuk. Sialnya, Laki-laki bermata cokelat itu masuk lebih dulu dan meninggalkan aku yang gugup setengah mati di belakang.

Dari dalam rumah, terlihat sosok perempuan menggunakan gamis dan jilbab datang menghampiriku, dengan sebuah senyuman ramah, dan sepertinya kehadiranku benar-benar sungguh dinantinya. Terlihat jelas dari raut mukanya yang begitu bahagia menyambutku, perempuan asing yang nantinya akan menjadi bagian dari hidupnya, bagian hidup keluarganya, bagian dari hidup anak nomor duanya, laki-laki bermata cokelat.

Aku masih dalam keadaan nervous, diam, hanya senyum, dan sedikit melontarkan sapaan kaku karena bingung, harus bagaimana aku bersikap. Saat itu berasa detik jam ini berjalan lambat setengah oktaf, Bagaimana tidak, ini adalah kali pertamanya seorang laki-laki yang benar-benar aku sayangi membawa diriku untuk diperkenalkan kepada orangtuanya.

Sunday, 13 March 2016

KOPRI PB PMII MENOLAK TPP (Trans-Pacific Partnership Agrement)

INTERNASIONAL WOMENS DAY
KOPRI PB PMII
TOLAK TRANS-PACIFIC PARTNERSHIP
Jakarta, 13 Maret 2016

TPP (Trans-Pacific Partnership Agrement) merupakan salah satu FTA yang mengatur mengenai ISDS termasuk standar perlindungan investasi yang dilakukan oleh Negara. Standar perlindungan investasi asing yang diterapkan dalam perakteknya kerap dijadikan dasar gugatan investor ke ICSID (International Center Settelement for Investement Disutes), seperti perlakuan non-diskriminasi, fair and equitable treatment, larangan nasionalisasi baik langsung dan tidak langsung.
Seruan Aksi Penolakan TPP oleh Kopri PB PMII

Sunday, 14 February 2016

Gedung Tzu Chi Indonesia

Mengenal Bangunan Tzu Chi Indonesia

         Ketika kita baru memasuki Kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Barat, mata kita akan langsung tertuju pada satu bangunan besar bernuansa Cina atau Tiongkok berwarna abu-abu.
          Yah, bangunan ini bernama Gedung Tzu Chi Indonesia. Arsitektur bangunan ini memang berbeda dari biasanya. Jarang ditemui di Indonesia khususnya Jakarta. Berada diujung Barat Kota Jakarta, ternyata ada bangunan semegah ini. Bangunan Tzu Chi ini sangat luas dan megah. Ketika kita berada di sana seperti berada di luar negeri.
         Saat itu hari libur, tidak ada aktivitas di sana, hanya terlihat beberapa pengunjung yang mengabadikan moment. Eits, jangan salah, bangunan Tzu Chi Budha Indonesia ini bukanlah tempat wisata atau bangunan bersejarah milik Indonesia, tapi bangunan ini digunakan untuk proses pembelajaran atau sekolah.
          Sekilas saya melihat, bangunan ini terdiri dari beberapa unit yaitu gedung utama, Gedung Kindergarten, Gedung Primary School, Secondary School, kemungkinan disebagian tempat lainnya juga ada gedung yang bertuliskan Junior dan Senior High School, sayangnya saat itu saya tidak melintasi keseluruhan gedung.
             Banyak yang berfoto dengan gedung megah ini, saya pun tergelitik untuk bertanya langsung dengan  penjaga setempat, meskipun googling tempat ini pun langusng muncul di internet.
          Saya pun menuju kantor satpam, di sana ada Bapak Ragil yang sedang bertugas. Menurut penjelasan   beliau, Gedung Tzu Chi ini didirikan di Jakarta sejak lima tahun lalu tepatnya tahun 2011 diresmikan langsung oleh Menteri Pendidikan Bapak M.Nuh.
           Gedung seluas 2,2 hektar ini setiap harinya digunakan untuk proses belajar mengajar. Menurut Ragil, siswa yang bersekolah di sini tidak hanya  diperuntukkan bagi warga non muslim, warga muslim pun bisa bersekolah di sini.
    Selain itu, tempat ini juga sering digunakan untuk kegiatan sosial dan kegamaan. masyarakat/instansi luar pun bisa berkunjung ke sini untuk melihat-lihat bangunan setiap hari Senin-Jumat pukul 09.00-15.00  WIB.
         Gedung Yayasan Budha Tzu Chi Indonesia ini pun dibangun atas donasi dari berbagai pihak baik dalam maupun luar negeri. Sebenarnya banyak pertanyaan yang saya ingin ketahuitentang bangunan Tzu Chi ini, namun Bapak Ragil enggan untuk memberitahu informasi lebih banyak, saya pun tidak diperbolehkan untuk masuk dan melihat ada ruang dan apa saja yang ada di dalam gedung Tzu Chi School.
Gedung Primary School tampak samping

Penampakan Gedung Primary School dari depan

Berikut sejarah tentang Tzu Chi School

Sejarah Tzu Chi

Pendiri Tzu Chi, Master Cheng Yen dilahirkan pada tanggal 14 Mei 1937 di Chingsui, Taiwan bagian tengah. Wafatnya sang ayah di tahun 1960 menjadikan beliau memahami bahwa hidup ini hanyalah sementara dan selalu berubah. Sejak saat itu beliau mulai mempelajari agama Buddha secara lebih serius sebelum akhirnya menjalani hidup sebagai bhiksuni pada tahun 1964.

Suatu hari di tahun 1966, Master Cheng Yen bersama beberapa pengikutnya datang ke suatu balai pengobatan di Fenglin untuk mengunjungi salah seorang umat yang menjalani operasi akibat pendarahan lambung. Ketika keluar dari kamar pasien, beliau melihat bercak darah di atas lantai tetapi tidak tampak adanya pasien. Dari informasi yang didapat diketahui bahwa darah tersebut milik seorang wanita penduduk asli asal Gunung Fengbin yang mengalami keguguran. Karena tidak mampu membayar NT$ 8.000 (sekitar Rp 2,4 juta), wanita tersebut tidak bisa berobat dan terpaksa harus dibawa pulang.

CATATAN:

Peristiwa bercak darah yang menimpa wanita pribumi bernama Chen Qiu Yin yang dikarenakan tidak mampu membayar NT$ 8,000 (Delapan ribu dollar) lantas tidak dapat berobat, apakah NT$ 8,000 itu adalah biaya pengobatan, uang jaminan atau uang muka? Setelah peristiwa itu, keterangan yang dikumpulkan dari beberapa pihak tidak seragam, berdasarkan salah seorang anggota keluarganya bernama Chen Wen Qian yang mengantar Chen Qiu Yin berobat pada saat itu pernah menuturkan secara terbuka kepada umum bahwa uang yang dimaksud itu adalah uang jaminan, kabar yang diperoleh Master juga sama yaitu uang jaminan, lagipula Li Man Mei, orang yang langsung berbicara dengan pasien dan pribumi lainnya di tempat peristiwa pada waktu itu (di tahun itu) telah beberapa kali menyelidiki dan mengemukakan hal serupa yaitu uang jaminan, namun pernah juga sekali dia hanya menyebutkan NT$ 8,000 dan tidak menyinggung uang jaminan. Dalam putusan kasus perdata, disimpulkan Li Man Mei menerangkan kepada Master bahwa karena pasien tidak mempunyai uang sebanyak NT$ 8,000 sehingga pergi meninggalkan Rumah Sakit merupakan suatu kenyataan, juga mengakui bukti bercak darah memang ada keberadaannya. Kasus ini diakhiri atas pilihan Tzu Chi untuk tidak mengajukan pengaduan naik banding.


Jauh di awal tahun 1970, sewaktu anggota komite Tzu Chi mengunjungi kaum fakir miskin di Fenglin, kendaraan yang mereka gunakan mengalami masalah, dengan spontan menggelorakan semangat (Bersatu-hati; Harmonis; Saling menyayangi; Bergotong-royong) untuk menegakkan teladan Bodhisattva dunia, sehingga bisa menjalankan apa yang sulit dilaksanakan bagi orang awam dan bisa sabar atas segala sesuatu yang sulit bagi orang awam.

Mendengar hal ini, perasaan Master Cheng Yen sangat terguncang. Seketika itu beliau memutuskan hendak berusaha mengumpulkan dana amal untuk menolong orang dan menyumbangkan semua kemampuan yang ada pada dirinya untuk menolong orang yang menderita sakit dan kemiskinan di Taiwan bagian timur.

Karena ada jalinan jodoh, di saat itu kebetulan sekali tiga orang suster Katolik dari Sekolah Menengah Hualien datang berkunjung untuk menemui Master Cheng Yen. Suster bertanya, "Agama Katolik kami telah membangun rumah sakit, mendirikan sekolah, dan mengelola panti jompo untuk membagi kasih sayang kepada semua umat manusia, walaupun Buddha juga menyebut menolong dunia dengan welas asih, tetapi mohon tanya, agama Buddha mempersembahkan apa untuk masyarakat?" Kata-kata ini sangat menyentuh hati Master Cheng Yen. Sebenarnya waktu itu umat Buddha juga menjalankan kebajikan dan beramal, namun tanpa mementingkan namanya. Dari situ membuktikan bahwa semua umat Buddha memiliki rasa cinta kasih yang dalam, hanya saja terpencar dan kurang koordinasi serta kurang terkelola. Master Cheng Yen bertekad untuk menghimpun potensi ini dengan diawali dari mengulurkan tangan mendahulukan bantuan kemanusiaan. 

Cikal Bakal Tzu Chi Dimulai dari Celengan Bambu
Kegiatan kemanusiaan Tzu Chi untuk kaum fakir miskin diawali dari 6 ibu rumah tangga yang setiap hari, masing-masing individu, merajut sepasang sepatu bayi. Di samping itu, setiap anggota diberi sebuah celengan bambu oleh Master Cheng Yen, agar para ibu rumah tangga setiap pagi sebelum pergi berbelanja ke pasar, menghemat dan menabung 50 sen ke dalam celengan bambu. Dari 30 anggota bisa terkumpul 450 dolar setiap bulan, ditambah hasil pembuatan sepatu bayi 720 dolar, maka setiap bulan bisa terkumpul sebanyak 1.170 dolar sebagai dana bantuan untuk kaum fakir miskin.

Kabar ini dengan cepat tersebar luas ke berbagai tempat di Hualien, dan orang yang ingin turut bergabung semakin banyak. Pada tanggal 14 Mei 1966, Yayasan Kemanusiaan Buddha Tzu Chi secara resmi terbentuk.

Pada awal masa pembentukan Yayasan Kemanusiaan Buddha Tzu Chi, Master Cheng Yen bersama para pengikut mengambil tempat sempit yang tidak lebih dari 20 m2 di Vihara Pu Ming, sambil berupaya menghasilkan produk untuk mendukung kehidupan, sambil mengurus jalannya organisasi. Pada musim gugur tahun 1967, ibunda Master Cheng Yen membelikannya sebidang tanah yang sekarang dimanfaatkan untuk bangunan Griya Perenungan. Walaupun demikian, Master Cheng Yen beserta para pengikut masih tetap mempertahankan prinsip hidup mandiri. Biaya perluasan seluruh proyek Griya Perenungan, selain mengandalkan pinjaman uang dari bank atas dasar hipotik hak kepemilikan tanah tersebut, juga dari hasil usaha kerajinan tangan. Sampai kini pun, Master Cheng Yen dan para pengikutnya tetap hidup mandiri dengan bercocok tanam ataupun menjalankan industri rumah tangga. Mereka tidak mau menerima sumbangan. (Sumber: http://www.tzuchi.or.id/tentang-kami)




Jakarta, 14 Februari 2016
Catatan Perjalanan
@kireizna