Tuesday, 11 June 2019

Sejenak di Kota Semarang: Dari Lawang Sewu Sampai Kuliner Lunpia

Setelah beberapa kali ke Semarang, akhirnya bisa berkesempatan untuk berkunjung ke Wisata Sejarah di Kota Semarang Lawang Sewu yang berarti 1.000 pintu. Bangunan Kuno ini menjadi daya tarik wisata asing tidak hanya arsitekturnya, namun kisah mistis yang menyelimuti sejarah bangunan kuno ini membuat wisatawan penasaran dan ingin membuktikan sendiri.

Kunjungan aku kali ini adalah bukan murni berlibur, namun untuk mengisi waktu perjalanan balik lebaran kami. Jadi ceritanya, kami kehabisan tiket kereta Bojonegoro-Jakarta, sehingga kita mengambil Tiket Kereta tambahan yaitu Kereta Transit. Pukul 06.30 kami berangkat dari Stasiun Bojonegoro menuju Semarang Tawang, kemudian berganti kereta menuju Jakarta pada pukul 16.50, gak kebayangkan bosennya menunggu hampir 4 jam di Stasiun, akhirnya saya dan suami (ceilee suami, maklum ini adalah Mudik Pertama Kami, hehe) memutuskan untuk mengunjungi destinasi wisata dan kuliner yang terjangkau dan tidak terlalu jauh dari Stasiun Semarang Tawang. Ohya, perjalanan kali ini aku tidak hanya berdua, namun bertiga dengan senyawa yang hidup di dalam perut aku selama hampir 2 bulan. Perjalanan yang menyenangkan dan melelahkan.

Lawang Sewu,
Setelah googling Desnitasi Wisata mana yang terdekat daerah Semarang Kota, kami memutuskan untuk menuju Gedung Kuno yang sangat fenomenal di Kota Semarang yaitu Lawang Sewu. Di zaman teknologi seperti ini memang sangat mudah mencaari ulasan tentang tempat atau apapun tanpa harus bertanya kepada seseorang yang belum tentu orang yang kita tanyai mengerti.

Dari stasiun Semarang Tawang kami menggunakan Ojek Online, cukup mudah, karena Semarang sudah mengikuti trend ibu kota dengan masukkna ojek online ke daerah ini. Saat itu daerah kota lama cukup padat dan macet, maklum masih banyak wisatawan atau penduduk lokal yang menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan di daerah Kota Lama. Sekitar 20 menit kami sampai di tempat tujuan. Di sepanjang trotoar sudah ramai pengunjung, dan ketika melewati pintu masuk dan menuju pembelian tiket masuk, yups antrean panjang dan Lawang Sewu full pengunjung. 
Foto 1 : Bagian Tengah Bangunan

Foto 2 : Bagian Samping Bangunan

Friday, 1 March 2019

Pontianak, State Of The Equator



Kota Pontianak memiliki daya tarik sendiri bagi wisatawan karena terdapat Tugu Katulistiwa yang memang tidak banyak daerah dilintasi Garis Katulistiwa. Selain itu, heritage Istana Kadriah menambah nuansa sejarah yang kental di Kota Pontianak.

Kota Pontianak, sedari duduk di bangku sekolah dasar aku penasaran dengan kota ini. Kota yang mendapatkan julukan Kota Katulistiwa. Ketika kita belajar Geografi kata 'katulistiwa' ini pastilah kita sering dengar. Kota Pontianak menjadi salah satu kota yang dilalui garis katulistiwa, garis lintang nol derajat atau yang disebut sebagai equator.

Mudahnya transportasi online yang sudah masuk di Kota Pontianak tidak membuat perjalanan saya terhambat meskipun sendirian. Dengan waktu yang cukup singkat, mengobati rasa dahaga keingintahuan yang sudah lama terpendam dengan Kota Pontianak ini, saya menggunakan ojek online menuju destinasi icon Kota Equator ini.

Keraton Kadariah "Warna Kuning Keemasan yang melekat pada bangunan ini melambangkan masa kejayaan"

Dari Hotel Mercure yang terletak di Jalan A.Yani menggunakan ojek online, destinasi pertama yang saya kunjungi adalah Keraton Kadariah Kota Pontianak. Hanya dengan Rp. 9 ribu perak, abang ojek membawa saya menuju Istana Kesultanan Pontianak. Jika Pontianak dikenal dengan having mangrove forests as along the Kapuas estury.Saat itu entah kenapa Kota Pontianak sangat panas, dan ada beberapa pembangunan infrastruktur yang sedang berjalan.

Menuju Keraton Kadriah diperlukan kurang lebih 45 menit. Memasuki area Keraton sudah terlihat pagar-pagar warna kuning keemasan.Di area keraton juga sedang dalam tahap renovasi, jadi mungkin saat kita memasuki wilayah keraton terlihat seperti perkampungan warga dengan segala aktifitasnya. Memasuki area Keraton dari jauh terlihat rumah kayu bewarna kuning. Disekitarnya dikeliling tembok-tembok kuning dan tepat didepan halaman terdapat sebuah meriam kuno. Masuk ke pelataran keraton, pengunjung harus melepas alas kaki yang digunakan, seperti masjid, tempat ini suci dan sangat dijaga kebersihannya.

Foto 1. Suasana pelataran Istana

Saat aku datang kesana belum banyak pengunjung. Kedatanganku disambut hangat oleh seorang Bapak-Bapak berwajah keAraban, aku lupa namanya karena tidak mencatat kala itu, beliau adalah keturunan Kesultanan, yang saat ini diberikan amanah untuk mengurus Keraton Kadriah.

Sunday, 6 January 2019

Menapaki Kehidupan Baru Di Tahun 2019, Akhirnya, Gue Nikah!


"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum [30]: 21)

Sepengal ayat tersebut membuktikan kekuasaan Tuhan, dipertemukannya dua insan yang saling menyayangi, mengasihi, saling bersabar atas waktu dan jarak yang memisahkan, Aku, Kamu dan Keluarga Kita akhirnya berSATU.

LDR, Kalian Gak Bakal Kuat, Biar Kami Saja!!

Siapa sih yang mau ngejalanin hubungan LDR (Long Distance Relationship), terutama cewek, gak bakal ada yang mau, gue yakin. Bagaimana harus menahan beratnya rindu, ingin berjumpa, kadangan pasangan disana ngapain aja kita gak tahu. Hanya modal percaya satu sama lain terkadang LDR bisa berbuah manis, tak jarang juga kandas ditengah jalan karena kecurigaan-kecurigaan antar Pasangan. Jika LDR itu berat buat kalian, Biar Kami Saja.

Mengenalnya, ketika gue sudah merantau di Jakarta tepatnya Tahun 2015, saat itu gue dikenalin sama temen baik gue di Jakarta dan juga kakak kelas gue saat S1 di Surabaya. Awalnya gak nyangka banget bisa nyatol sama laki-laki karena pencomblangan, secara gue gak pernah yakin sama comblang-mencomblangin orang, karena bagi gue yang banyak punya teman, mengenal seseorang karena kita sudah mengenalnya sadari awal adalah bukti kemantaban batin tersendiri, jelek baiknya kita sudah tahu luar dalemnya. Tapi, beda dengan yang ini. Pencoblangan setelah patah hati itu emang jurus yang manjur buat bikin gue takluk,,hehe

Percakapan awal doi memulai terlebih dahulu, ya kali kan cewek yang mulai duluan, gengsilah ya. Obrolan standart seperti anak muda yang lagi PDKT, doi juga manis dan perhatian banget, mulai dari stalking Media Sosial milik doi, akhirnya gue mantab buat kenalan, selain itu garansi doi dari keluarga baik-baik uda gue kantongin dari temen yang ngenalin gue ke doi.
Foto awal kami berpacaran
Taken Tahun 2016

Singkat cerita gue sama doi ngejalanin LDR selama kurang lebih 3 tahun bukan berarti baik-baik saja seperti orang kebanyakan liat sampai akhirnya happy ending. Banyak drama yang kita lewati setiap harinya. Yang gue syukuri adalah kesabaran doi yang tiada batas ke gue yang suka marah-marah membuat hubungan kami awet, hingga kedua orangtua kami bertemu dan memperkuat ikatan pernikahan. LDR emang berat, tapi benar-benar kisah yang manis untuk para pelakunya, termasuk kami berdua. Jadi, bagi kami LDR itu gak berat, yang berat tetap Rindu seperti kata Dilan.