Wednesday, 10 July 2024

Mendaki Jabal Nur: Menyelami Perjuangan Rasulullah Menerima Wahyu Pertama di Gua Hira

Langit masih gelap gulita. Jam menunjukkan pukul 02.00 WAS. Saya dan teman-teman petugas haji Sektor 9 Makkah bersiap mendaki Jabal Nur, tempat Rasulullah menerima wahyu pertama di Gua Hira.

Alhamdulillah, tahun 2024 saya diberi rezeki menjadi pelayan tamu Allah sebagai anggota PPIH Arab Saudi. Saya bertugas di Sektor 9 Misfalah, Makkah, sebagai pelayan konsumsi. Nikmat yang luar biasa: melayani tamu Allah sekaligus melaksanakan ibadah haji di tengah tugas yang berat.

Setelah jamaah gelombang kedua mulai meninggalkan Makkah menuju Madinah, saya dan teman-teman merencanakan kunjungan ke tempat bersejarah bagi umat Islam, yakni Gua Hira. Tempat ini adalah lokasi pertama turunnya wahyu kepada Rasulullah. Perasaan antusias dan penasaran luar biasa mengiringi langkah kami. Jantung berdetak kencang, dan salawat terus terucap sepanjang perjalanan.

Dari Misfalah Menuju Jabal Nur

Kami sepakat berangkat tengah malam ke Jabal Nur dengan beberapa alasan. Pertama, pukul 07.00 WAS kami harus mengikuti apel sehingga tidak mungkin meninggalkan tugas. Kedua, perjalanan ke puncak Jabal Nur cukup berat dan jauh. Kami juga ingin melaksanakan salat subuh di Gua Hira. Selain itu, dini hari lebih sepi dari keramaian jamaah, mengingat musim haji ini jutaan orang dari berbagai negara ingin berkunjung ke sana.

Gua Hira terletak di puncak Jabal Nur, sekitar 4 kilometer dari Masjidil Haram. Dari Misfalah, kami hanya memerlukan 30 menit perjalanan dengan mobil kantor menuju kawasan parkir Jabal Nur. Dari sana, jamaah harus berjalan kaki sekitar 200 meter menuju titik awal pendakian. Dalam gelapnya malam, kami menyusuri jalan yang sepi, dengan pertokoan masih tutup dan lampu-lampu rumah belum menyala.



Mendaki Gunung Batu

Mendaki gunung tentu tidak mudah dan membutuhkan fisik yang kuat. Jabal Nur adalah gunung batu, berbeda dengan gunung di Indonesia yang cenderung sejuk dengan pepohonan rindang. Jabal Nur memiliki ketinggian 640 meter dengan kemiringan jalur pendakian antara 45 hingga 70 derajat.

Pendakian dimulai dari pos awal, yang ditandai dengan sebuah toko kecil menjual makanan serta poster sejarah Jabal Nur. Tangga pendakian beralaskan batu, tidak rata, berkelok, dan cukup curam. Jarak dari tangga pertama hingga puncak hanya sekitar 600 meter, tetapi kemiringannya membuat napas terasa berat.

Dalam kondisi minim pencahayaan, kami menggunakan senter ponsel untuk melihat medan yang dipenuhi bebatuan dan pasir. Tidak semua tangga memiliki pembatas, sehingga kami harus sangat berhati-hati. Dengan langkah santai dan beberapa kali berhenti untuk istirahat, kami membutuhkan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam untuk mencapai puncak.
Foto diambil dari puncak Jabal Nur


Sepanjang pendakian, salawat terus terucap di hati. Betapa luar biasa perjuangan Rasulullah SAW dan Siti Khadijah. Siti Khadijah bahkan harus berjalan sejauh 6 kilometer untuk mengantarkan makanan kepada Rasulullah yang sedang beribadah di Gua Hira.

Gua Hira: Jejak Perjuangan Rasulullah

Setibanya di puncak Jabal Nur, Gua Hira tidak langsung terlihat. Gua tersebut berada di balik puncak, sehingga masih ada jalan curam dan sempit yang harus dilalui. Untuk masuk ke lokasi, kami melewati celah sempit di antara bebatuan.
Lubang kecil dibawah bebatuan besar pintu masuk Gua Hira



Di mulut Gua, kami mendapati beberapa jamaah dari negara lain sedang bergantian salat. Suasananya masih cukup sepi. Dengan rasa haru, kami mengantre untuk melaksanakan salat hajat di dalam Gua Hira yang sempit, berukuran panjang 3,7 meter dan lebar 1,6 meter. Air mata menetes saat salat dan berdoa di tempat mulia ini. Saya merenungkan perjuangan Rasulullah yang menerima wahyu pertama, yaitu Surat Al-‘Alaq ayat 1-5.

Setelah selesai berdoa, mendekati waktu subuh, jamaah mulai berdatangan. Kami melaksanakan salat subuh berjamaah di puncak Jabal Nur. Suasana khusyuk terasa luar biasa meskipun ramai pengunjung.
Gua Hira


Perjalanan turun gunung terasa lebih cepat dibanding mendaki. Kami menuruni anak tangga dengan hati-hati hingga kembali ke pos awal sekitar pukul 05.30 WAS. Banyak jamaah baru tiba saat itu. Jika ingin berkunjung ke Gua Hira, saya sarankan berangkat tengah malam. Selain lebih sepi, cuaca pun lebih nyaman dibanding pagi atau siang hari yang cenderung panas dan ramai pengunjung.



*Catatan Satgas Jamarat. PPIH Arab Saudi*

MAkkah, 10 Juli 2024

Thursday, 4 July 2024

Ziarah Kota Madinah : Keberkahan di Sumur Ghars dan Musala Rasulullah

Ziarah ke kota Madinah, tidak hanya bisa meneguk kesegaran air sumur surga "Ghars Well" tapi juga bisa melakasanakan salat dan berdoa di musala kecil tempat Nabi beribadah dan beristirahat selama di Madinah.

Kesempatan yang luar biasa ketika bisa melaksanakan salat dan berdoa di sebuah musala kecil bersejarah di Madinah, yang pernah menjadi tempat Rasulullah SAW berjihad. Musala ini, yang berada di belakang Sumur Ghars, sering digunakan Nabi untuk salat lima waktu dan beristirahat. Selain itu, keberkahan lain adalah dapat menimba air dari Sumur Ghars, yang disebut sebagai "air surga," tempat Rasulullah mengobati dahaga.

Kota Madinah menyimpan banyak cerita sejarah Islam. Selain Masjid Nabawi, salah satu peninggalan bersejarah yang istimewa adalah Bi'rul Ghars atau Sumur Ghars. Sumur ini terletak di wilayah Quba, sekitar 1,5 kilometer arah timur laut dari Masjid Quba. Dari Masjid Nabawi, perjalanan ke Sumur Ghars hanya memakan waktu 30 menit menggunakan mobil.

Pintu masuk Sumur Ghars ditandai dengan antrean orang-orang Arab yang menjual botol kosong atau jeriken kepada jamaah. Dengan harga 10 riyal untuk empat jeriken, pengunjung bisa membawa air sumur sebagai oleh-oleh. Saat kami berkunjung, Sumur Ghars dipenuhi oleh jamaah haji dari berbagai negara. Sumur ini adalah salah satu situs bersejarah penting dalam Islam, dan airnya yang terus mengalir tanpa henti diyakini membawa keberkahan.

Foto 1. Bagian Depan Sumur Ghars yang saat itu dalam tahap renovasi

Tuesday, 25 June 2024

Melayani Tamu Allah: Catatan Satgas Jamarat

Rangkaian puncak ibadah haji tahun 2024 berlangsung pada 14–19 Juni atau 8–13 Zulhijah. Sebagai bagian dari persiapan, para petugas haji diberangkatkan lebih awal, termasuk saya dan tim, yang mulai bertugas sejak 7 Juni 2024.

Persiapan di Arafah: Menyambut Jamaah dengan Sepenuh Hati

Memasuki puncak haji, pemerintah telah menyiapkan berbagai layanan agar jamaah dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk, lancar, dan sehat. Saya, yang sebelumnya bertugas di sektor pelayanan konsumsi, bersama teman-teman Satgas Jamarat, berangkat ke Arafah pada 7 Zulhijah. Tugas kami di sana adalah memastikan kesiapan layanan akomodasi bagi jamaah, seperti tenda, karpet, AC, listrik, dan konsumsi.

Sore itu, kami meninggalkan Makkah menuju Arafah bersama para petugas lainnya. Bagi saya, yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Arafah, rasa syukur tak henti-hentinya terucap. Bisa melayani tamu Allah sekaligus berkesempatan melaksanakan rukun dan wajib haji di tengah tugas adalah nikmat luar biasa.

Di Arafah, saya bertugas di Maktab 58. Suhu mencapai hampir 40 derajat Celsius, tetapi semangat kami untuk melayani jamaah tetap menyala. Pada 8 Zulhijah pukul 06.00, jamaah mulai bergeser dari sektor menuju Arafah. Saya dan tim bergantian berjaga di gerbang masuk bersama Syarikah Arab Saudi untuk memastikan jumlah jamaah sesuai kuota.

Melihat wajah-wajah jamaah yang penuh semangat dan sehat membuat hati kami bahagia. Jamaah lansia, risiko tinggi (risti), dan yang sedang sakit menjadi prioritas utama untuk segera dibantu menuju tenda agar dapat beristirahat.

Momen Wukuf: Introspeksi dan Kedekatan dengan Allah

Pada 9 Zulhijah, saat wukuf tiba, jamaah dan petugas mengenakan ihram, berkumpul di dalam tenda untuk berdiam diri, merenung, dan berdoa. Arafah bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi juga memiliki makna mendalam: mengingat kefanaan dunia, kesetaraan di hadapan Allah, serta kesempatan untuk introspeksi dan taubat.

Dalam keheningan Padang Arafah, setiap jamaah diajak untuk mengenali dirinya sendiri dan memperkuat hubungan dengan Allah. Momen ini begitu sakral, mengingatkan kita bahwa di hadapan-Nya, semua manusia sama—tanpa pangkat, tanpa jabatan, hanya seorang hamba yang berharap ampunan dan ridha-Nya.

Dari Arafah ke Muzdalifah dan Mina: Ujian Fisik dan Kesabaran

Setelah wukuf, petugas mulai mengatur pergerakan jamaah menuju Muzdalifah, lalu Mina. Pada tahun 2024, pemerintah menerapkan konsep murur, yaitu mabit (bermalam) di dalam bus saat melewati Muzdalifah, sebelum langsung menuju Mina. Kebijakan ini diambil demi keselamatan jamaah, terutama lansia dan risti, serta petugas yang harus segera menyiapkan akomodasi di Mina.
Di Mina, kami langsung mengecek kesiapan fasilitas: tenda, air, AC, karpet, WC, serta konsumsi jamaah. Suhu siang hari begitu terik, namun kami tetap semangat melayani. Mina menjadi puncak ibadah haji yang menguji kesabaran dan ketahanan fisik, baik bagi jamaah maupun petugas.
Berbeda dengan Arafah, di mana jamaah berdiam diri dalam tenda, di Mina mereka harus menjalankan ibadah lempar jumrah di tiga lokasi selama hari-hari tasyrik. Perjalanan pulang-pergi dari maktab ke Jamarat bisa mencapai belasan kilometer, menguras tenaga dan membutuhkan kesiapan fisik yang prima.

Satgas Jamarat: Mengawal Perjalanan Ibadah yang Penuh Tantangan

Di Mina, saya bertugas sebagai Satgas Jamarat. Petugas ini ditempatkan di sepanjang rute menuju Jamarat untuk membantu jamaah yang tersesat, kelelahan, atau mengalami kendala kesehatan. Mina adalah wilayah yang luas, dan lempar jumrah adalah bagian wajib dalam ibadah haji. Setiap jamaah harus melewati tiga lokasi jumrah: Aqabah, Ula, dan Wusta, dengan perjalanan pulang-pergi sejauh sekitar 14 km.

Bagi kami, petugas haji, Mina adalah ujian kesabaran dan dedikasi. Di tengah lelah melayani, kami tetap harus menjalankan ibadah wajib haji. Namun, keikhlasan membuat segalanya terasa ringan. Delapan hari di Mina menjadi pengalaman berharga, penuh suka dan duka dalam melayani tamu Allah.
Di postingan berikutnya, saya akan berbagi cerita tentang beberapa jamaah yang kami bantu di Mina—dari lansia yang tersesat, jamaah dengan demensia, hingga orang tua yang tertinggal rombongan. Semoga kisah-kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.

Melayani tamu Allah bukan sekadar tugas, tetapi juga ibadah. Semoga Allah menerima amal kita semua.




Makkah, 25 Juni 2024
Catatan Satgas Jamarat

Monday, 10 June 2024

Pergi Ke Baitullah Pada Kesempatan dan Waktu Istimewa

 *Catatan Petugas Haji 2024* (Bagian 1)


Penggalaman spiritual yang luar biasa dipertengahan tahun Bulan Juli 2024 lalu, bisa pergi ke Baitullah tidak hanya melaksanakan rukun islam yang ke 5 tapi kesempatan yang istimewa melayani Tamu Allah sebagai Petugas Haji Indonesia.

Menjadi Petugas Haji adalah pengalaman luar biasa bagi saya, bukan hanya secara spiritual tetapi juga emosional. Tahun 2024 ini, Allah SWT telah memberikan rezeki yang tak ternilai dengan kesempatan ini. Saya yakin bahwa Allah tidak pernah tidur dan selalu mendengar setiap doa hamba-Nya. Hanya saja, waktu yang tepat adalah rahasia Allah semata

Tentu saja, kesempatan menjadi Pelayan Tamu Allah ini bukanlah sesuatu yang datang begitu saja. Ada usaha dan doa yang terus menerus saya panjatkan. Saya tahu banyak di antara kita yang ingin menjadi petugas haji, pergi ke Baitullah, bukan hanya untuk bertugas, tetapi juga untuk melaksanakan Rukun Islam kelima, yakni menunaikan haji ke Tanah Suci. Yakinlah, ketika Allah memanggil kita untuk mengunjungi Rumah-Nya, Dia akan memudahkan segalanya.

Selama hampir 34 tahun, saya belum pernah menginjakkan kaki di Tanah Suci. Sebagai perempuan pekerja keras sejak muda, alhamdulillah, tabungan saya sebenarnya cukup untuk pergi umrah. Namun, tanpa keinginan yang kuat dan panggilan dari Allah, saya tak pernah tergerak untuk berangkat. Keyakinan ini semakin kuat ketika, tiga tahun terakhir, setelah berkeluarga dan memiliki satu anak, keinginan untuk berziarah ke Makkah dan Madinah semakin besar. Berkali-kali saya memimpikan berada di bawah Kakbah, tapi suami saya selalu menekankan bahwa kami harus menunaikan kewajiban haji terlebih dahulu.

Suami saya selalu berkata, “Kita niatkan untuk menunaikan kewajiban ini terlebih dahulu. InsyaAllah, pasti ada jalan dan kemudahan untuk ke Tanah Suci.” Dengan antrean haji di Jawa Timur yang saat ini hampir mencapai 35 tahun, akhirnya pada tahun 2023 tabungan kami cukup untuk mendaftarkan dua porsi haji. Keyakinan kami adalah bahwa Allah akan selalu memberikan jalan dan waktu yang tepat.

Pada akhir tahun 2023, saya mengikuti tes seleksi untuk menjadi Petugas Haji. Saya melengkapi berbagai persyaratan yang dibutuhkan, mulai dari paspor, surat rekomendasi, dan dokumen lainnya. (Bagian ini akan saya tuliskan lebih lanjut dalam “Catatan Petugas Haji, Bagian 2”).

Alhamdulillah, saya berhasil lolos tes administrasi dan melanjutkan ke tahap tes CAT secara daring di Kantor Kemenag Sidoarjo. Saya mempersiapkan diri dengan membaca berbagai regulasi terkait ibadah haji, rukun dan syarat haji, moderasi beragama, serta wawasan kebangsaan.

Namun, saya belum berhasil lanjut ke tahap wawancara. Meskipun sudah berusaha, saya hanya bisa pasrah, mungkin belum saatnya Allah memanggil saya ke rumah-Nya. Yang ada dalam benak saya saat itu hanyalah keinginan kuat untuk bisa berkunjung ke Baitullah. Bersama anak saya yang berusia empat tahun, setiap malam sebelum tidur saya membaca talbiyah dan memberikan afirmasi positif agar Allah SWT berkenan memanggil saya.

Keinginan kuat itu semakin membuncah hingga akhirnya saya meminta izin kepada suami untuk melakukan reservasi perjalanan umrah di salah satu travel. Karena suami tidak bisa cuti, saya pun mengutarakan niat untuk mengajak ibu saya menunaikan ibadah umrah bersama.

Percakapan setelah Maghrib itu berlangsung dalam keheningan. Saya bertanya pada ibu mengenai tabungan yang beliau miliki, untuk mengetahui apakah cukup jika digunakan untuk berangkat ke Tanah Suci. Ibu menjawab dengan jujur bahwa tabungannya tidak banyak dan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Mendengar hal tersebut, saya berkata, "Mau berangkat umrah bareng aku, Bu? Aku yang akan mengurus semua biayanya, doakan semoga rezekiku lancar." Sama seperti saya, ibu pun belum pernah menginjakkan kaki di Tanah Suci. Saya pun berharap Allah SWT memberikan kesempatan bagi saya untuk berangkat bersama beliau ke Baitullah.

Rezeki sempat tertunda, namun Allah SWT memberikan kejutan yang luar biasa. Pada pertengahan Mei 2024, dering telepon membangunkan harapan saya; saya dinyatakan lolos rekrutmen petugas haji dan diminta segera mengurus kelengkapan dokumen sebelum bimbingan teknis di Jakarta.

Sujud syukur dan tangis haru pun mengalir begitu saja. Saya segera menelepon ibu dan memberitahukan bahwa saya lolos dan akan mengurus segala persyaratan. Allah Maha Baik, Allah tahu kapan waktu terbaik untuk kita. Kita hanya perlu terus berusaha dan berdoa. Ternyata, pada tahun 2024 ada tambahan kuota 500 petugas haji Indonesia, dan Qadarullah nama saya termasuk dalam daftar tersebut. Pada tanggal 1 Juni 2024, bersama para pelayan tamu Allah, saya berangkat menuju Makkah.

Semoga kisah ini semakin menguatkan keyakinan kita bahwa segala sesuatu datang pada waktu yang terbaik menurut Allah. Berdoa dan berusaha adalah bagian dari ikhtiar kita, dan Allah SWT pasti mendengar setiap doa hamba-Nya.

Makkah, 10 Juni 2024

Friday, 10 June 2022

Desa Kepetingan, Daerah Terpencil Jadi Jujukan Wisata di Sidoarjo

Tradisi Nyadran di Desa Kepetingan menjadi ciri khas dan jujukan wisata lokal Di Sidoarjo. Sejarah dan adat istiadat masyarakat yang masih dipegang teguh oleh masyarakat lokal. Selain sebagai jujukan wisata, Daerah terpencil yang rawan bajir ini membuat kegiatan belajar mengajar lumpuh setiap tahunnya. Buaya yang 'nyasar' ke rumah waragapun menjadi cerita tersendiri bagi warga Desa Kepetingan.

Tidak banyak orang tahu, Sidoarjo yang dikenal sebagai kota industri dan jujukan kaum imigran dari daerah lain mempunyai Daerah Terpencil dari segi akses maupun kondisi masyarakat yang kurang maju. Desa Kepetingan adalah salah satunya. Untuk bisa sampai di daerah pelosok ini kita harus menggunakan perahu. Akses darat pun juga bisa digunakan, akan tetapi membutuhkan waktu yang cukup lama, serta kondisi jalan yang sempit dan bebatuan hanya bisa dilalui kendaraan roda dua.

Saya selalu tertarik mengunjugi daerah terpencil. Ditulisan sebelumnya, saya uraikan pengalaman saya ketika berkunjung di Desa Pucukan Kelurahan Gebang, Sidoarjo

Kali ini saya akan menceritakan pengalaman di Desa kepetingan, salah satu desa kategori desa terpencil dan tertinggal. Seperti sebelumnya, menuju Desa Kepetingan rombongan kami, saat itu saya bersama Dinas Kesehatan Kab Sidoarjo berkunjung ke Desa Kepetingan dalam rangka program Germas.

Rombongan menggunakan perahu, jarak yang kami tempuh kurang lebih 1 jam dari Desa Bluru, lebih cepat ketimbang menuju Desa Pucukan. Selama diperjalanan, tentu kami disuguhi pemandangan pohon magrove disisi kanan dan kiri sungai atau rawa-rawa, hal ini yang menjadi daya tarik tersendiri ketika berkunjung ke Desa terpencil di wilayah Sidoarjo, kita akan melewati sungai 'amazon' versi kearifan lokal Sidoarjo. Kondisi sungai waktu itu cukup deras, debit air cukup tinggi karena bulan Juni 2022, intensitas hujan masih tergolong tinggi di Kota Delta. Kondisi air yang hijau, langit cerah dan sesekali burung bangau bertebrangan membuat perjalanan semakin syahdu dan nikmat, meskipun hawa panas saat pukul 08.30 pagi begitu menyengat.




Daya Tarik Wisata Desa Kepetingan dan Tradisi Masyarakat

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo ternyata telah menobatkan kawasan terpencil ini menjadi Wisata Pantai Kepetingan. Salat satu wisata yang menyajikan keindahan alam. Pantai Kepetingan dikelilingi tambah, tumbuhan mangrove dan hutan pantai. Selain itu, Tradisi Nyadran di Pantai Kepetingan 2 kali dalam setahun yaitu Bulan Maulid dan Bulan ramadahn membuat semakin ramai pengunjung.

Ritual nyadran bertujuan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, serta sebagai wujud syukur masyarakat setempat akan karunia dan nikmat atas melimpahnya hasil tangkapan ikan para nelayan. Tidak hanya itu, akan dinyanyikan juga tembang-tembang khas jawa, yang dinyanyikan oleh peserta nyadran dari atas perahu.

Perahu-perahu ini akan pergi berziarah ke makam Putri Ayu Dewi Serdadu, yang letaknya di desa Kepetingan atau Ketingan. Konon menurut cerita masyarakat setempat, Putri Ayu Dewi Serdadu adalah ibunda dari Salah satu Wali Songo yaitu Sunan giri. Ritual Nyadran membuat Desa ini selalu ramai dikunjungi masyarakat Sidoarjo atau daerah lain

Tiba di dermaga Desa Kepentingan, kita akan disambut dengan replika ikan, tertulis disana merupakan Kenang-Kenangan dari Mahasiswa yang melakukan KKN di Desa yang mayoritas penduduknya nelayan tersebut. Petugas dari Dinas Kesehatan melakukan tugasnya sosialisasi Gerakan Masyarakat Sehat serta sosisalisasi pencegahan penyakit DBD.

Dermaga Pemberhentian Perahu Di Desa Kepetingan

Saya berswafoto di depan monumen ikan yg dibuat oleh Mahasiswa yg sedang KKN



Banjir Tahunan Membuat Sekolah Lumpuh

Saya kemudian berkeliling Desa Kepetingan. Berbeda dengan Desa Pucukan, Desa yang terkenal dengan Wisata pantai Kepetingan ini masyarakatnya lebih modern, sadar akan kebersihan dan kondisi rumah lebih tertata rapi. Tidak jauh dari balai desa lokasi acara, terlihat anak-anak sekolah berlarian,mereka menggunaka seragam merah putih dan putih biru, ini menandakan bahwa Desa Kepetingan memiliki Sekolah Negeri dua jengang SD dan SMP.

Memiliki dua jenjang sekolah, SDN Sawohan 2 Sidoarjo dan SMPN Satap Buduran, ini menandakan bahwa meskipun daerah tergolong daerah terpencil, akses pendidikan untuk warga setempat dapat didapatkan dengan mudah.


Menurut bapak Siswanto, Guru Kelas 4 SDN Sawohan 2, masyarakat Desa Kepetingan sudah seperti masyarakat Kota, hanya saja tempat tinggal mereka jauh dari kota, dan aksesnya pun lebih mudah menggunakan perahu. "Sudah seperti orang-orang di Kota, mereka juga menyekolahkan anak mereka di sini, listrik juga setiap hari nyala tidak pernah mati kecuali konslet," terangnya.

Siswanto adalah guru kelas yang setiap harinya menggunakan sepeda motor dari rumahnya daerah Damarsih, Kecamatan Buduran. Sebagais seorang guru di daerah terpencil semangatnya tidak pernah padam, meskipun ia sering sakit pinggang karena medan darat yang ia lalui tidak seperti jalanan aspal di kota. Ia harus menempuh perjalanan 2 jam untuk tiba di sekolah.

"Kalau jalan pelan-pelan naik motor 2 jaman, kalau ngebut-ngebut juga gak bisa karena kanan kiri tambak, jalanan banyak batu, kalau jatuh susah minta pertolongan karena sepi, boyok juga sakit mbak" jelasnya sambil tersenyum.

Area sekolah SD dan SMP tergabung menjadi satu. Tahun 2022, sebanyak 41 siswa duduk dibangku SD, dan 24 duduk dibangku SMP. meskipun terlihat luas sekolah yang berada pada naungan Dinas Pendidikan ini, namun bangunan terlihat kurang terlawat, banyak kelas kosong dengan kondisi kotor dan bangku patah. Kondisi tersebut ternyata di Desa Kepetingan sering kali banjir yang membuat bangunan terendam air yang meluap dari sungai hingga selutut orang dewasa.

siswa sedang bermain sepak bola di lapangan sekolah


Masih menurut Bapak Siswanto, kondisi banjir tersebut membuat proses belajar mengajar terhenti. Sekolah diliburkan hingga air surut. Banjir ini menjadi langganan setiap tahun di pertengahan bulan Mei dan bulan Agustus, karena itu terlihat beberapa ruang sekolah diberikan pembatas sehingga air tidak masuk ke ruang kelas. "Sering langganan Bajir di bulan Mei dan Agustus, bulan lalu saja libur hampir selutur airnya mbak," terangnya sambil menunjukkan tingginya genangan bajir hingga lutut orang dewasa.

Selain langganan banjir, Warga Kepetingan pun langganan didatangi hewan buas seperti buaya. Hal ini dikarenakan air sungai yang meluap membuat buaya tersebut "nyasar" di rumah warga. Namun, mereka bersyukur tidak pernah ada korban jiwa dari kedatangan tamu tidak diundang tersebut. hemmm serem uga ya ajika anak-anak menemukan buaya tersebut lebih dulu. Mungkin dari Dinas terkait perlu memantau kondisi Desa-Desa Terpencil yang dikelilingi rawa-rawa, karena banyak sekali hewan buas yang tinggal bersama mereka.


Suasanan dan Fasilitas Ibadah Warga setempat


Sidoarjo, 8 Juni 2022

Tuesday, 7 June 2022

Peluncuran Pita Lila Keluarga di Sidoarjo : Anak Syahda Perwakilan Balita Sidoarjo

Cerita Syahda 1

Halo Bunda Hebat di seluruh Negeri, Salam Bahagia!

Pada rubrik Cerita Syahda, saya akan menuliskan beberapa aktivitas anak kami Syahda Naishadira Zuhri yang saat ini usianya memasuki 2,5 tahun. Memang betul, mengasuh anak secara langsung meskipun terkadang lelah, tak terasa anak begitu cepat mereka tumbuh. Si mamak pun mulai melow memikirkan anaknya sudah besar dan sebentar lagi akan memasuki dunia pendidikan (sekolah).

Dibeberapa kesempatan cerita sebelumnya, bahwa anak kami terlahir dan tumbuh dimasa pandemi. Bunda hebat sekalian pasti faham kan, dimasa-masa sulit tersebut interikasi dengan orang lain dan semua aktivitas dibatasi bahkan hampir tidak bisa bersilaturahim dengan orang lain, hanya keluarga inti di rumah. 

Kondisi tersebut membuat anak kurang mengeksplorasi lingkungan luar dan interaksi dengan orang lain berkurang, sekolah saja online ya bund, apalagi yang namanya arisan, nongki-nongki sudah tidak ada lagi 2 tahun terakhir.huhuu, mama hebat sekalian pasti jenuh di rumah, yaa kan? samalah dengan mama syahda.hehe

Disaat anak tidak bisa berinteraksi dengan orang lain hanya dengan orantua, dan keluarga inti di rumah, Anak Syahda yang baru berusia 2 tahun tentu rasa takut dengan orang lain cukup tinggi, hanya ingin bersama mama, kakek, nenek dan orang yang kenal saja. Ada rasa khawatir sebagai orangtua anak tidak bisa bersosialisasi dengan orang lain. 


Dari kondisi tersebut, sebagai orangtua terus mengupayakan anak bisa memupuk rasa percaya dirinya, dimulai dari hal-hal terkecil. Dan kesempatan itu akhirnya datang, ketika anak Syahda sebagai perwakilan Balita Sidoarjo dalam program peluncuran pita Lila keluarga yang diselenggarakan oleh UNICEF, TP PKK Kabupaten Sidoarjo dan Dinas Kesehatan Kab Sidoarjo.

Apa itu Pita LiLa Keluarga?
 
Lingkar Lengan Atas (LiLa) adalah bagian dari pemantauan dini status gizi anak. Program ini diharapkan akan menurunkan kasus Malnutrisi Energi Protein (MEP) atau yang disebut kurang gizi dan gizi buruk. Pengukuran menggunakan Pita Lila merupakan strategi pemberdayaan masyarakat, dimana keluarga dapat menjadi detektor pertama kejadian kasus kurang gizi akut balita di dalam keluarga. Sehingga jika keluarga bisa mendeteksi dini, konsekuensi serius akibat kekurangan gizi akut dapat dicegah.


Foto bersama Ibu Bupati Sa'adah Ahmad Muhdlor, Ibu Wakil Bupati Sriatun Subandi, UNICEF dan Dinas Kesehatan Kab.Sidoarjo



Bersama empat perwakilan Balita, kami orangtua diminta kedepan sebagai contoh bagaimana teknis pengukuran Pita Lila yang benar, serta bagaimana cara menghitung angka yang tertera pada Pita Lila menunjukkan status gizi pada anak kita. Pengukuran LiLA dilakukan dengan menggunakan pita dengan indikator warna merah, kuning, dan hijau—warna-warna ini menandakan risiko kurang gizi yang dialami anak. Warna merah menandai kondisi anak parah dan membutuhkan perawatan segera. Warna kuning berarti anak mengalami kurus akut, sementara warna hijau menandakan anak sehat.

Awalnya anak Syahda sangat antusias ketika menunggu dipanggil kedepan panggung. Aku sangat antusias didepan banyak orang meskipun tidak mau bersalaman dengan ibu-ibu pengurus PKK yang sedang hadir di acara peluncuran Pita Lila. Pada saat Ibu Bupati Sidoarjo Sa'adah Ahmad Muhdlor dan tim UNICEF mendatangi anak Syahda dengan membawa pita Lila, Syahda malu dan menangis ketika lengannya dipegang orang lain, serta melihat puluhan mata menyaksikan dia berdiri di depan panggung. 

Setelah melihat banyak orang, dan sesi pengukuran lila selesai meskipun begitu hectic dan si anak syahda nempol 'ngandol" mamanya, status gizi Syahda baik dan tidak menunjukkan stunting dan gizi buruk. Alhamdulilah.

Demikian cerita Syahda perdana tampil di depan umum dengan disaksikan puluhan pasang mata. Sebagai orangtua, kami tidak pernah memaksakan anak, hanya memberikan pengalaman yang sekiranya nanti bisa membuat dia tampil percaya diri dan bisa mengekplorasi kemampuannya dengan baik.





Sekian,
kiss buat dedek Syahda yang sudah berani tampi hari ini... Love Mama




Monday, 31 January 2022

Gentle Weaning With Love, Menyapih Anak Dengan Pendekatan Komunikatif Tanpa Paksaan

Seperti halnya memberikan ASI ketika anak lahir hingga 24 bulan. Meyapih juga membutuhkan tekad dan kerja keras bagi seorang Ibu. Takut gagal dan menimbulkan trauma bagi si anak, komunikasi dan menyapih dengan lembut (gentle weaning) bisa menjadi alternatif bunda

Setelah hampir 24 bulan berusaha memenuhi kebutuhan ASI anak Syahda, kini saatnya harus menyapih anak. Ada perasaan sedih dan was-was tentunya bagi saya yang baru mempunyai satu anak. Jika mendengar cerita teman dan ibu-ibu lainnya, menyapih anak bisa berlangsung lama maupun sebentar, hal ini tergantung bagaimana si ibu, si anak juga lingkungan sekitarnya.

Menyapih anak merupakan tugas lanjutan bagi orangtua khususnya seorang ibu untuk mendukung perkembangan anak setelah si kecil mengenal  ASI dan makanan padat. Penerapan fase menyapih pada anak setiap orang berbeda dan terkadang mudah, maupun terkadang menjadi hal yang sulit dilakukan bagi ibu dan anaknya. Itu sebabnya terkadang ada beberapa ibu yang masih menyusui meskipun usia si kecil sudah lebih dua tahun.

Jika si kecil diberikan full ASI baik DBF maupun Pumping sampai usia 24 bulan, menyapih bisa memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi ketimbang anak yang hanya meminum ASI dalam kurun waktu yang singkat dan didampingi dengan minuman yang lain. Orangtua khususnya Ibu harus benar-benar membutuhkan teknik dan trik khusus agar anak bisa lepas ASI tanpa paksaan dan trauma.

Bagi saya, menyapih anak bukan hal yang mudah dilakukan, selain harus memikirkan strategi yang tepat agar anak bisa lepas ASI, tapi juga tentang psikologis saya juga anak. Memberikan full ASI membuat kedekatan anak dan ibu semakin kuat. Hubungan intim ini hanya dimiliki keduanya. Sehingga ketika anak lepas ASI pun, sang ibu merasa sedih dan ada sebagian dirinya hilang.

Syahda Naishadira Zuhri usia 25 Bulan

Ajak Anak Berkomunikasi

Saat ini anak Syahda berusia 25 bulan. Bagi saya, seorang ibu pekerja sedikit was-was ketika anak Syahda memasuki usia 22 bulan intensitas menyusui (DBF) semakin sering, pasokan ASI saya pun masih deras dan cukup banyak, meskipun tidak full ASI, sejak usia 18 bulan sudah saya berikan susu formula sebagai pendukung kebutuhan gizi Anak Syahda.

Kedekatan saya dengan anakpun sangat intens, setiap malam DBF dan tidur bersama saya, dimoment tersebut saya selalu mengajak anak Syahda komunikasi. Salah satunya "Dek, nanti setelah 2 tahun tidak boleh nenen yaa,". "Dek Nanti habis ulang tahun, sudah besar ndak boleh Nenen ya," hampir setiap hari kata-kata tersebut saya lontarkan sebelum tidur. Anak Syahda termasuk anak yang cepat respon dan kosakata komunikasinya cukup baik, dia selalu menjawab "iya", "engge, ndak nenen,". Kata-kata tersebut melegakan saya, semoga anak Syahda mengerti dan mau membantu saya dalam proses menyapih.

Komunikasi intens saya lakukan hingga akhirnya menjelang 2 tahun usianya. Beberapa dari teman mengatakan kepada saya, sat menyapih tidak harus 24 bulan tepat usianya, biarkan anak siap dengan sendirinya. Tapi, bagi saya jika menunggu anak siap, dan tanpa ada upaya apapun nanti anak akan semakin manja dan susah untuk lepas ASi. Selain itu, di keluarga saya, salah satu anak saudara baru 3 tahun lepas ASi, membuat saya khawatir anak Syahda mengalami demikian. Selain anak akan semakin manja, WHO merekomendasikan pemberian ASI pada anak sampai 2 tahun, dan juga anak yang disusui hingga usia 24 tahun diberi ASI sampai kenyang pada malam hari, frekuensi menyusui tinggi membuat sulitnya membersihkan gigi. Penelitian juga mencatat, menyusui selama 12 hingga 23 bulan tak membawa resiko gigi berlubang. Jadi, masalah gigi berlubang beresiko terjadi pada anak dususui dalam kurun waktu 24 bulan atau lebih.

Genap 2 tahun 5 Januari 2022 ternyata anak Syahda semakin rewel dan ingin nenen terus ketika saya di rumah. Saya pun tidak tega untuk tidak memberikan ASI saat dia meminta. Berdahil takut rewel dan nangis ketika malam hari, akhirnya ASi pun saya berikan.

Saat itu perayaan ulang tahun ke 2 anak Syahda memang sedikit mundur, komunikasi terus saya lakukan, karena belum berhasil akhirnya dendan cara kuno saya melakukan trik dengan memberikan minyak kayu putih diputing saya. Awalnya berhasil tidak mau nenen karena anak Syahda bilang bau dan tidak suka bau minyak kayu putih, namun lagi-lagi tidak berhasil. Di malam hari ia tetap DBF. (Coba lagi Bund..hehhe)

Butuh niat dan tekad yang kuat bagi seorang ibu agar anak bisa lepas ASI tanpa trauma dan membuat sang anak menangis. AKhirnya perayaan ulang tahun anak Syahda berlangsung tanggal 10 Janauri 2022, trik minyak kayu putih terus saya gunakan, tanpa paksaan, dan dengan lembut mengalihkan permintaan ASi dengan susu dot, teh, air putih dll Anak Syahda perlahan tidak meminta untuk nenen, berdalil "bau" tidak mau nenen..heheh

Sedari awal saya bertekat jika menyapih anak, saya tidak ingin anak trauma dan selalu menangis. Teknik Gentle Weaning/Weaning With Love bisa diterapkan Bunda.

Dari kisah ini pun saya belajar memahami anak. Ketika saya ajak komunikasi hampir 2 bulan untuk proses menyapih, ternyata anak sudah menyiapkan dirinya sendiri, jadi tidak perlu paksaan dari orangtua khususnya ibu, yang perlu dilakukan adalah menata niat dan sabar.

Sebagai ganti dari keberhasilan anak bisa lepas asi dengan teknik Gentle Weaning, anak menjadi lebih mandiri, meskipun butuh beberapa minggu untuk menyesuaikan diri ketika malam hari yang terbiasa minum ASi dengan DBF, ketika sudah lepas ASI ia mencari "tandon" ASI sekarang tidak. Butuh waktu untuk si mamak harus begadang mengendong si kecil karena menangis. Namun, proses tersebut tidak akan selamanya, anak bisa lebih mandiri dengan proses tersebut.


Semoga bermanfaat!

Birthday Party Syahda 10 Januari 2022




Thursday, 30 September 2021

GOWES, Melihat Produksi Panci Dandang di Kecamatan Porong, Sidoarjo!


Sebuah gudang besar terlihat beberapa ibu-ibu sedang duduk lihai mengopeasikan sebuah mesin dan membawa bongkahan aluminium. Dengan cekatan ditambah dengan latarbelakang bunyi khas prang-prang-prang, tak memperdulikan kami yang datang bergerombol untuk melihat proses pembuatan panci dandang serta ingin berbelanja perabot rumah tangga.

Beberapa waktu lalu, tepatnya 25 September 2021, saya berkesempatan  berkunjung ke daerah sentra pembuatan Panci, Dandang dan perabot lainnya  yang terbuat dari aluminium di Kecamatan Porong.

Mungkin tidak banyak orang lain tahu, bahwa Kecamatan yang lebih dikenal dengan wisata Lumpur Lapindo ini banyak warganya memproduksi panci, atau  pengrajin panci. Salah satunya adalah Desa Kebakalan.

Saat itu, saya gowes dari alun-alun Sidoarjo menuju Sentra Pengrajin  Panci Di Desa Kebakalan. Tentunya saya tidak sendiri, bersama Ibu Bupati  Sidoarjo Sa'adah Ahmad Muhdlor dan Pegurus TP PKK Kabupaten dan Kecamatan. Istimewa sekali  gowes kali ini karena kita juga melipir ke Sentra Pembuatan perabot rumah  tangga, ibu-ibu newbie seperti saya yang gemar mengumpulkan perabot rumah  tangga padahal belum tahu kapan dan memasak apa adalah kegiatan yang  menyenangkan.Hehehe

Bergerak dari Pendopo Alun-alun melawati jalan utama Sidoarjo-Porong Desa Kebakalan, total kurang lebih 17 kilometer kami gowes, lumayan  membakar kalori meskipun sedikit ngos-ngosan tapi tetap terlihat tegar  takut malu dengan ibu-ibu yang lain..Hihi

Minggir, emak-emak mau lewat...hehe


Dirintis 20 Tahun Lalu, Pasang Surut Usaha

Kali kedua menginjakkan kaki di Desa Kebakalan, sebelumnya saya dan ibu  pengurus TP PKK Kabupaten Sidoarjo memberikan bantuan sosial ke daerah  ini, namun tidak berkesempatan untuk melihat produksi panci saat itu.

Salah satu pengrajin panci dandang yang kami datangi adalah Ibu  Khalimatus Sa'diyah, ia memulai bisnisnya kurang lebih 20 tahun. Saat  datang ke pabrik pembuatan panci dandang milikya terus terang saya takjub  karena di daerah ini benar-benar tidak terjangkau, masuk gang kecil dan  ternyata da 3 bangunan besar dengan berbagai macam bahan dan mesin-mesin  pembuat panci dan dandang.

Ibu Khalimatus Sa'diyah bercerita bahwa usaha yang ia mulai 20 tahun lalu  merupakan usaha keluarga, belum lama suaminya meninggal sehingga sekarang  ia dan anak pertama mulai mengurus usaha ini. Pasang surut bisnis telah  ia rasakan selama ini, dan yang paling terasa adalah saat pandemi Covid- 19. Tidak hanya merosotnya omzet yang ia dapat namun juga harus  kehilangan partner hidup, yaitu suaminya.

Usaha milik Ibu Sa'daiyah ini salah satu terbesar di Kecamatan Porong,  beberapa Desa juga memproduksi barang serupa. Dalam bisnisnya perempuan  yang akrab disapa Bu diyah ini memperdayakan warga sekitar terutama ibu- ibu hampir 80 persen. Bisnis yang ia bangun dengan keluarga tidak hanya  bertujuan untuk keuntungan semata namun bisa bermanfaat untuk orang lain,  khususnya tetangga mereka.

Didalam teori sosial, bisa dikatakan sebagai sosiopleneur, kegiatan  berwirausaha berbasis bisnis dengan misi utama menciptakan Social Impact,  yang meningkatkan harkat dan taraf hidup masyarakat kelas bawah. Misi  sociopreneur adalah memandirikan masyarakat kelas bawah. Bisnis dalam  sociopreneur bukan untuk profit semata. Kebermanfaatan bagi masyarakat  atau pelaku usaha lain dalam rantai nilai / lingkungan sekitar adalah  prioritasnya. 


Pandemi Covid-19 berdampak buruk diberbagai sektor terutama Ekonomi, hal  ini juga dirasakan oleh usaha panci milik Ibu Sa'diyah. Sebelum pandemi  ia bisa memproduksi panci dan dandang dengan berbagai ukuran sampai 5.000   pcs, namun saat pandemi permintaan menurun menjadi 1.500 pcs per hari.  Tidak hanya itu, Sa'diyah juga harus megurangi jumlah karyawannya dari 60  menjadi 30 orang dan tentunya ibu-ibu masih mendominasi.

Dukungan Pemerintah dan Masyarakat

Semangat berbisnis dan memberdayakan masyarakat yang diakukan Ibu  Sa'diyah dan keluarga harus diapresiasi, dikondisi sulit karena dampak  pandemi covid-19 bisnisnya masih tetap eksis dan produktif. Panci dan dandang milik Ibu Sa'diyah lebih banyak dikirim di luar kota  ketimbang masyarakat lokal seperti Kediri, Jombang, Madiun dan luar jawa  seperti Lombok dan Kalimatan.

Hal ini menjadi catatan bagi saya dan masyarakat lokal. Seharusnya kita  dukung, kita beli dan kita cintai produksi barang lokal bukan malah  membeli produk milik daerah lain. Denagan bangga dan memakai barang lokal  memberikan kotribusi perekonomian dan semangat kepada pelaku usaha untuk  terus berinovasi dalam usahanya.

Selain itu dipihak pemilik kebijakan, Ibu Sa'diyah juga menjelaskan bahwa  sempat Kecamatan Porong khususnya Desa Kebakalan dinobatkan menjadi  Sentra UMKM Pengrajin Panci, namun sudah beberapa tahun kebalang, sama  sekali tidak ada pembinaan maupun kunjungan ke desa atau usaha mereka.

Kedatangan Ibu Bupati Sa'adah Ahmad Muhdlor waktu itu menjadi angin segar  bagi para pengrajin Panci. Pasalnya, pihak pemerintah kKabupaten akan  menggalakkan geliat UMKM dan pembuatan sentra umkm lagi. Kita akan tunggu  dan semoga akan segera terealisasi. Amin


Hanya sebuah catatan perjalanan!

Saturday, 28 August 2021

Sambang Daerah Terpencil Kecamatan Sidoarjo, Desa Pucukan Kelurahan Gebang

Tidak banyak masyarakat Sidoarjo mengetahui keberadaan Desa Pucukan Kecamatan Gebang, siapa juga yang ingin tinggal disana dengan segala keterbatasan akses dan fasilitas umum.

Yah, Desa Pucukan adalah salah satu desa yang terletak di Kelurahan Gebang, Kecamatan Sidoarjo. Daerah ini termasuk kategori wilayah terpencil di Sidoarjo karena letakknya yang cukup suliy dijangkau melalui jalur darat.

Beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 19 Agustus 2021, aku berkesempatan berkunjung ke Desa Pucukan lagi bersama Pengurus TP PKK Kabupaten Sidoarjo dan Dinas Kesehatan Sidoarjo dengan agenda Germas, Vaksinasi dan Bansos di daerah terpencil.

Sebelumnya, mendengar rencana kunjungan ke daerah terpencil ini, aku langsung excited karena selain sudah penasaran bagaimana kondisi dan masyaraat daerah tersebut setelah 2014 lalu aku berkunjung ke daerah ini untuk liputan, ketika itu statusku adalah wartawan media swasta di Sidoarjo.

Keberangkatan kali ini berbeda dengan 7 tahun lalu, dengan perencanaan yang matang membawa ibu-ibu hebat pengurus TP PKK kabupaten dan Dinkes, rombongan kami berangkat dari Tempat Pelelangan Ikan di Lingkar Timur. Menggunakan empat perahu kayu sekitar 1,5 jam perjalanan kami diatas air menuju Desa Pucukan.

Bersama Rombongan TP PKK Kabupaten Sidoarjo


Sepanjang perjalanan tidak banyak aktifitas yang kami lakukan, hanya melihat kanan kiri rawa-rawa dan hamparan hutan mangrove. Selain itu aku melihat kondisi sungai saat ini terlihat kurang bersih, masih banyak sampah dan tanaman ganggang yang sedikit menyulitkan kami. Mungkin kondisi ini dikarenakan Pandemi Covid-19 tidak banyak nelayan yang bekerja maupun Dinas terkait yang melakukan pekerjaan pembersihan sungai di Sidoarjo. Kondisi ini membuat salah satu perahu kayu rombongan kami terhenti karena baling-baling perahu tersangkut sampah plastik yang cukup besar sehingga membuat perahu terhenti dan harus menunggu perahu yang lain untuk membantu.

Ajakan Germas dan Vasinasi

Kultur sosial masyarakat Desa Pucukan lebih ditekankan kepada iklim kekerabatan dan kekeluargaan, terlihat saat rombongan kami datang, masyarakat cenderung acuh dan takut. Mungkin juga karena kedatangan kami dengan rombongan besar dan kondisi pandemi covid-19 mereka lebih apatis dan tertutup.

Saat ini, jumlah penduduk Desa Pucukan sekitar 147 jiwa dengan 54 Kepala Keluarga, sebagian besar mata pencaharian sebagai nelayan.Namun,pandemi covid-19 mengakibatkan menurunya pengasilan sebagian besar para nalayan dan bekerja serabutan.

Aku melihat masyarakat Desa Pucukan sangat introvert karena mendengar penolakan mereka akan vaksinasi covid-19 sangat tegas. Mungkin mereka melihat satu sisi, hidup di daerah terpencil tidak akan tertular virus covid-19.Selain itu, ajakan untuk hidup sehat masih kurang antusias. Lebih cenderung meyakini kehidupan mereka tidak terikat dengan kondisi di luar lingkungan mereka.

Foto Situasi Kegiatan Germas Di Desa Pucukan

Kondisi Rumah Warga

Mengkutip sebuah jurnal terkait adopsi sistem among bagi komunitas adat terpencil, mungkin nanti bisa dipraktekkan oleh pemangku adat atau lembaga sosial lainnya yaitu ketika Ki Hajar Dewantara membangun Taman Siswa, berkembang sesuai dengan minat dan bersumber dari adat istiadat dan budaya.

Sistem among punya prinsip yang sejalan dengan karakter komunitas adat terpencil. Sebab pola pendidikannya dibangun tanpa sebuah paksaan dengan pendekatan yang lebih humanis dan berbasis kultur. Sehingga sistem yang demikian lebih mudah diterima komunitas adat terpencil. Suatu komunitas yang memiliki latar belakang budaya kuat, dan entitas yang tidak bisa dipisahkan dengan alam dan hutan. Ajakan Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) semoga nanti bisa dilakukan oleh warga Desa Pucukan, karena masih belum banyak rumah warga yang mempunyai sanitasi pembuangan air yang bersih dan layak.

Sekolah Tak Terawat

Desa Pucukan memiliki sekolah Dasar Negeri Gebang, namun kondisi Pandemi Covid 19 kegiatan belajar mengajar terhenti, dan terlihat proyek pembangunan renovasi sekolahpun masih belum berjalan lagi, jadi ketika aku datang kesana kondisi masih 'mangkrak', saat itu saya teringat artikel yang pernah saya tulis ketika datang ke Desa Pucukan,"Belum Sebulan Di Renovasi, Atap Sekolah Sudah Ambruk" . Saat itu, saya bertemu dengan kepala SDN Gebang dan ingin menunjukkan atap sekolah yang baru direnovasi oleh Pemerintah Sudah ambruk. Hal ini menjadi Pekerjaan Rumah yang  cukup besar bagi pemangku kebijakan agar lebih memperhatikan kualitas daripada hanya sebatas formalitas pekerjaan saja.

Dari hasil kunjunganku ke Desa Pucukan untuk kedua kalinya, aku menyimpulkan bahwa kultur masyarakat masih sama setelah 7 tahun tidak menginjakkan kaki kesini. Terkait infratruktur juga tidak jauh berbeda, bahkan rumah warga pun masih sama, seperti merasakan ‘dejavu’ karena tidak banyak mengalami perubahan.


Waktu menuju siang, rombongan kami kemudian kembali pulang, karena jika terlalu malam air sungai surut maka kami harus tertahan di Desa Pucukan. Salut dan cukup bangga kepada masarakat setempat, dengan semua keterbatasan mereka bisa survive menjalani kehidupan.


Bersama Ibu drg.Adity Syaf Ketua Bidang IV TP PKK

Bersama Bapak drg. Syaf Satriawarman (Kadinkes Sidoarjo)

Bersama Ibu Bupati Sa'adah Ahmad Muhdlor dan Ibu Wabup Sriatun Subandi


 

 

 

 

 





Wednesday, 28 July 2021

Stigma Masyarakat Desa Tentang Penyintas Covid 19

Mengembalikan kepercayaan diri kepada orangtua khususnya Ibu Saya ternyata cukup lama pasca sembuh covid 19 awal bulan Juli lalu.

Stigma masyarakat desa dengan orang yang terpapar covid 19 cenderung mengucilkan bukan memberi bantuan atau dukungan.

Saya ingat betul ketika kami sekeluarga terpapar, kami memutuskan tidak menutupi penyakit ini, dan sebagian orang/tetangga bahkan salah satu perangkat Desa pun tahu kami terpapar Covid-19, dan kebetulan rumah kami selisih 1 rumah dengan kantor balai desa. Rumor kami terpapar khususnya orangtua kami di RS pun sudah menjadi pembicaraan tetangga dan kerabat.

Dikondisi yang begitu sulit tersebut, saya yang sudah terkonfirm positif hanya tinggal di rumah, di lantai atas dengan segala keterbatasan, adik dan kakak saya yang terkonfirm negatif masih bisa pergi untuk menjenguk orangtua di RS dan membelikan makanan.

Hampir satu minggu adik kakak bergantian menyiapkan kebutuhan kami, dengan prokes ketat, tidak berinteraksi dengan orang-orang, bahkan ketika membeli sesuatu tangan berkali-kali menggunakan handsintizer, kami menjaga betul tidak menularkan ke orang lain.

Ternyata, setelah beberapa hari menyiapkan kebutuhan makanan, obat-obatan, semua yang bisa menambah imun, membersihkan rumah, "wira-wiri" kondisi adik mulai drop dan menyusul saya isoman, dari tanda-tanda yang dialami   demam, pusing, nyeri sendi hingga sempat anosmia. Adik menyusul isoman dengan saya.
Foto : Google Istimewa


Saat-saat seperti itu memang kita tidak berharap orang lain atau keluarga membantu kami, saya memahami kondisi seperti covid 19 orang-orang menjaga dirinya sendiri untuk tidak tertular. Kami memaklumi jika mereka semua menjauh, bahkan perhatian dari desa pun tidak ada, sehingga saya mencari jalan sendiri menanggani keluarga kami dari urusan rumah sakit, menyiapkan kebutuhan kami yang isoman hingga penyemprotan disinfektan rumah kami.

Setelah hari-hari penuh perjuangan, setelah dokter memperbolehkan orangtua kami pulang dengan hasil PCR negatif di hari ke 10,  kami tetap isoman, masker sekeluarga dari bangun tidur hingga tidur kita pakai, melepas saat makan saja itu pun harus bergantian di dapur agar tidak berkerumun di dalam rumah, Maklum rumah kami tidak terlalu luas, dan menjaga jarak kami di rumah agar sementara tidak terlalu dekat.

Kami sekeluarga isoman hampir 4 minggu, meskipun sudah dinyatakan Negatif semua kami masih menjaga untuk tidak terlalu berinteraksi dengan orang lain. Kami faham mungkin mereka takut. Diawal kepulangan orang tua kami, kami memang melarang beberapa orang untuk menjenguk kedua orangtua kami.

Namun hampir setelah 1 bulan berlalu, stigma menakutkan bagi penyintas covid 19 di masyarakat desa ternyata masih kental. Selama ini ibu kami masih dalam pemulihan, tubuhnya berbeda dengan sebelumnya, cepat lelah, terasa lemas, dan memang covid19 membuat berat badan ortu kami khususnya ibu turun drastis. Tapi kami tetap syukuri, dengan beliau sehat kami sudah sangat senang apapun orng lain katakan.

Dimasa yg cukup lama tersebut kami sekeluarga sudah sehat total. Tapi bagi ibu saya, saya melihat dia enggan untuk keluar rumah dan berinteraksi dengan tetangga bahkan untuk berbelanja di sekitar rumah. Saya melihat orang-orang disekitar saya /tetangga ternyata mereka juga masih takut berinteraksi dengan kami sekeluarga. Yang biasa menyapa diam seakan tidak ingin kami berinteraksi dengan mereka. Bahkan ibu saya pernah bercerita ketika beliau sedang membeli sesuatu ada tiba-tiba seseorang menghindar dan acuh sekali. Mungkin beliau takut tertular atau apalah. Ibuku akhirnya insecure terhadap dirinya sendiri.

Butuh waktu lama meyakinkan ibu saya bahwa penyakit ini bukan Aib, tidak perlu minder karena kami sekeluarga sudah sehat, Ibu bisa berjalan jalan lagi, belanja lagi hanya cukup mengurangi kerumunan dan terus memakai masker. Kami meyakinkan tidak perlu mendengarkan atau memikirkan sikap orang kepada kita. 

Akhir-akhir ini pun lingkungan rumah banyak berita duka dan benar-benar tidak menyangka orang tersebut harus pergi meninggalkan dunia ini lebih dulu dari mereka usia masih muda hingga tua. Ada kabar beberapa dari mereka positif covid 19.

Dari kabar duka tersebut, untuk memicu semangat ibu kami akhirnya kami memberitahu bahwa ibu harusnya bersyukur tidak perlu malu pernah masuk isolasi rumah sakit karena covid 19, penyakit ini tidak pandang bulu saat ini, penularannya cepat sekali siapapun bisa tertular. Kemarin sehat bisa jadi tertular kondisi drop dan tidak ada umur panjang, bahkan mencari rumah sakit sekarang susah.

Kami meyakinkan ibu kami untuk bersyukur, Ibu dan bapak bisa sehat melawan virus ini, Ibu beruntung bisa mendapat penanganan yang cepat di RS, Ibu harus bersyukur diberi umur panjang. Sejauh kita tetap menjalankan prokes biarlah orang lain menjauh toh yang mengerti pasti bangga ibu bisa sehat dan melawan virus ini.

Inilah yang kami rasakan sebagai penyintas covid 19 yang hidup ditengah-tengah masyarakat desa. Masyaraat yang kadang tidak percaya dengan virus ini, tapi ketika berhadapan dengan orang terdekat yang terkonfirm positif mereka pun menjauh. Kami berharap edukasi terkait Covid 19 bisa terus di sosialisasikan di masyarakat oleh semua pihak.

Catatan : Tidak ada riset khusus tulisan ini saya buat. Hanya berbagi pengalaman dan semoga bisa bermanfaat. Ambil baiknya dari tulisan ini. Terimakasih.

Monday, 5 July 2021

Keluarga Kami Berjuang Melawan Covid-19

Hari yang melelahkan akhir bulan Juni hingga awal Juli lalu. Disaat tersebut Tuhan memberikan cobaan untuk keluarga. Kami sekeluarga berjuang melawan covid-19. Aku tidak menyangka kami sekeluarga positif Covid-19. Protokol Kesehatan sejak awal pandemi kami selalu taati dikala lingkungan tidak banyak mendukung dan menganggap remeh virus ini.

Awal Mula Kontak Orang Konfirm Positif

Melonjaknya angka penyebaran virus covid 19 di Indonesia membuat tidak ada tracking penularan virus darimana. Jika diawal mudah dikenali dan sebagian golongan yang mulai terpapar. Namun ternyata virus ini sudah tidak memandang status dan jabatan sosial, semua bisa terpapar.

Begitu pula yang kami rasakan. Selama ini kami bepergian selalu menggunakan masker, cuci tangan dan menjaga jarak. Namun ternyata Tuhan juga memberikan penyakit  itu kepada kami.

Awal mulanya kami kontak dengan orang confirm positif covid 19 tanggal 4 Juni 2021. Kami pun tidak sengaja kontak erat saat itu, karena yang bersangkutan adalah sepupu yang sedang melangsungkan pernikahan dan kami tidak mengetahui bahwa dia sudah mulai tidak merasakan bau dan tidak bisa merasakan makanan hampir seminggu.

Ketika dia berkunjung ke rumah kami pasca 3 hari menikah sontak aku pribadi kaget dia ternyata bergejala. Namun apa daya yang kita harapkan dia jujur dan mau swab tidak disambut baik dia dan keluarganya. Demi kesehatan dan kepentingan kami sekeluarga yang sudah "rewang" dan kontak langsung dengan yang bersangkutan maka saya paksa untuk swab antigen, dan firasat saya pun benar dia positif garis 2 merah dengan waktu singkat. Saat itu juga demi pekerjaan saya pun iktu swab antigen dan Alhamdulilah hasilnya negatif.

Mengetahui sepupu comfirm negatif, kami sekeluarga pun berjaga-jaga untuk menambah imun dengan membali minuman vitamin C dan susu murni. Kami rutin minum dan juga kedua orangtua kami.

Sialnya, keluarga sepupu yang saat itu confirm positif begitu bebal dan acuh tak acuh, bukannya isolasi mandiri tapi berkeliyaran tidak menggunakan masker. Berulang kami ingatkan namun juga tak digubris.

Hal ini menjadi pembelajaran bagi kita semua, jika memang terkonfirm positif jangan malu dan mengakuinya. Lakukan isolasi mandiri dan terapkan prokes baik didalam rumah maupun diluar, dan baiknya agar tetap stay at home agak tidak merugikan orang lain.

Begitu singat awal mula kami kontak dengan orang confirm positif covid 19. Setelah 14 hari berlalu ternyata kami sekaluarga tidak ada gejala, syukur alhamdulilah saat itu kami rasakan. prokes dan minuman meningkat imun terus kami lakukan untuk berjaga-jaga.

Awal Gejala

Setelah 14 hari berlalu tanpa gejala, ternyata Dihari Sabtu 19 Juni 2021,tiba-tiba sore hari ibu kami mengalami demam dan pusing yang luar biasa.Saat itu kami mengira hanya kecapean biasa, ternyata hingga beberapa hari kondisi makin lemas ditambah demam tidak turun dan mual.

Kami bergantian menjaga dan merawat beliau. Namun dihari Senin bapak yang menjaga ibu ikut mengalami demam dan pusing yang luar biasa. Kami sempat kewalahan menjaga orangtua kami karena aku, kaka mempunyai anak dan juga harus bekerja.

Disaat itu saya sempat berfikir untuk melakukan swab tapi kami tunda, kondisi ibu semakin lemah dan nafsu makan turun drastis dan muntah.

Hari Selasa, 20 Juni 2021, pagi hari saya masih bekerja namun kondisi mulai flu berat meler dan bersin berkali-kali. Rabu malam dinihari biasanya menggunakan AC tahan dingin, saat itu tiba-tiba mengigil dan sendi-sendi merasa sakit, demam 38 derajat hingga esok pagi sampai akhirnya saya ijin bekerja. Seharian nafsu makan berkurang, mulut terasa pahit dan kepala sangat pusing.

Disaat saya dan orangtua mengalami sakit bergantian, dan membaca beberapa artikel varian delta covid 19 gejala yang kami alami persis demikian.Akhirnya kami memutuskan untuk swab antigen di Lab swasta.

Jika ada yang bertanya kenapa harus di Lab Swasta membayar Rp,200 ribu per orang tidak  dipuskesmas gratis? Ya karena ada pengalaman tidak mengeenakan ketika Swab gratis di puskesmas, ini akan saya ceritakan di artikel selanjutnya ya.

Vonis Positif Aku dan orangtua

Hari Kamis 21 Juni 2021, bapak ibu swab antigen di lab. Menunggu dengan hati cemas, berharap memang penyakit biasanya karena ibu mempunyai riwayat diabet dan bapak jantung hipertensi.

Setelah menunggu satu jam hasil keluar, dengan tangan gematar dan panas dingin. Petugas Lab membeerikan hasil kedua orangtua kami positif, dan menyarankan untuk melakukan  Swab PCR untuk mengetahui seberapa jauh virus tersebut ada di dalam tubuh orangtua kami.

Saat itu juga aku, kakakku, dan adik melakukan wab antigen juga. Dari kami bertiga, aku yang bergejala terkonfirm positif juga. Lemas, bingung, takut campur aduk dan kondisi ibu kami juga semakin memburuk.

Isoman dan rumah sakit

Rasa sedih, kesal, takut, bercampur jadi satu. Hati masih menyalahkan oranglain yang jelas-jelas terkonfirm positif tapi tetap saja mengabaikan prokes dan menyepelakan penyakit ini. Namun berlahan berdamai dengan diri sendiri, kita tidak tahu darimana virus itu datang ke keluarga kami, mungkin Tuhan memberikan cobaan ini ada hal baik yang akan kami dapatkan dibalik musibah ini. Tidak menyalahkan orang lain atas musibah ini.

Kami sekeluarga berdiskusi langkah baik apa yang harus kami lakukan untuk merawat oragtua dan kami sekeluarga. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk membawa Ibu kami dirawat di rumah sakit bersama bapak kami. kami tidakbisa meninggalkan ibu kami sendiri di rawat di rumah sakit, psikologisnya akan semakin turun dan jauh dari kesembuhan, sehingga bapak menemani ibu di RS.

Lonjakan covid semakin tinggi dibulan Juni, hmpir semua rumah sakit rujukan covid 19 penuh. Meminta bantuan kolega akhirnya Tuhan memudahkan kami mendapatkan Rumah Sakit. Saat itu RS Delta Surya bukanlah rujukan Covid 19, namun saat ibu kami akan dibawah kesana ternyata baru hari itu juga ternyata RS Deltar Surya menjadi rujukan Covid 19.

Syukur Alhamdulilah Tuhan memberikan kemudahan berobat ibu kami. Di hari kamis Pukul 21.00 WIb kami membawa orangtua ke RS. Setelah hampir 2 jam di IGD, kedua orangtua kami pindah ke kamar isolasi.

Satu urusan yang paling darurat selesai pengobatan kedua orangtua kami, hal lain yang harus kami diskusikan adalah bagaimana teknis isoman kami sekeluarga, ada 2 anak kecil berusia 18 Bulan. Disaat itu hati fikiran benar-benar campur aduk. Satu sisi harus merasa bahagia untuk meningkatkan imun, sisi lain harus memikirkan orantua di RS dan anak.

Setelah berbagai pertimbangan dan agar tidak menularkan ke anak kami. Akhirnya aku dan kakakku memutuskan untuk memisahkan sementara kami dengan mereka. Anakku Syahda bersama bude yang bisa momong saat aku kerja, dan anak Raya pun demikian di rumah tetangga yang membantu momong setiap harinya.

Di empat tempat terpisah, hanya via Vidiocall

Ini pertama kali aku berpisah dengan anak. Selama ini tidak pernah aku meninggalkan setiap malamnya, hanya satu hari waktu itu aku tinggal ke Jakarta dan begitu sedih dan kesepiannya saat itu. Nah ini harus aku relakan untuk beberapa hari.

Dibalik Kaca Kamar Melihat Orangtua kami


Aku lakukan isolasi mandiri di rumah dengan kakak, adik dan kakak ipar. Namun ternyata virus ini memang benar cepat sekali menular. Dari kakak ipar mulai bergejaladan akhirnya swab psoitif covid. Adik yang awalnya sehat bergantian bergejala demam, batuk dan flu. Karena yakin swab antigen hasilnya positif kami menunggu isolasi mandiri selama 2 minggu.

Hari begitu berat dan memang ketika memberikan saran kepada oranglain begitu mudah tapi disaat kita yang menjalani begitu sulit. Aku paksa makan meskipun tidak enak dan sempat hilang rasa satu hari, obat dan vitamain aku minum sekaligus hingga jantung panas dan berdetak kencang, ikhtiar agar cepat pulih ternyata langkah yang salah memakan berbagai macam vitamin. Setiap tubuh manusia memiliki daya tahan tubuh yg berbeda dengan obatan-obatan kimia, ini yang bisa aku ambil hikmahnya, bahwa tubuh kita tidak sama dengan orang lain. Sesuaikan dengan tubuh kita apa yg kita minum.

Beberapa hari isoman dirumah mempersiapkan alat kesehatan seperti oksimeter, termometer untuk mengecek kadar oksigen dialam paru-paru dan suhu tubuh. Alhamdulilah kondisi berangsur membaik dihari ke 4. Aku tinggal mengembalikan nafsu makan.

Kondisiku yang membaik, tetapi tidak dengan kondisi oragtua kami di RS. Kondisi Ibu belum juga membaik di hari ke 4, bapak pun mulai kelelahan karena harus mengurus ibu dan tidak bisa tidur selama di RS. Fikiran mulai kalut, bingung dan takut setiap harinya. Hanya doa dan usaha menanyakan akan penyakit dan kondisi ibu kami agar cepat pulih.

 

Bagaimana kabar anak? teernyata selama tidak tidur dengan aku, anak sangat rewel di malam hari karena sudah terbiasa DBF anak kesulitan tidur dimalam hari harus mencari emaknya.

Alhamdulilah, Berangsur Membaik

Dihari ke tujuh isoman, saya melakukan swab antigen dan ternyata hasilnya sudah negatif, tapi saya tetap melakukan isoman dan mengurangi bepergian hanya datang ke rumah sakit membawakan makanan untuk orangtua. Disaat itu pula kondisi ibu kami membaik.

Ohya saat itu sudah dilakukan Foto Thorax 2 kali dan paru-paru kedua orangtua kami bagus dan tidak mengalami pneumonia jadi kesembuhan dari covid 19 cepat, hanya memulihkan riwayat penyakit diabet ibu kami yang cukup lama.

Dihari ke 8 orangtua kami diperbolehkan pulang dan melakukan isolasi mandiri. Dan Alhamdulilah sekarang dalam masa pemulihan.

Dari pengalaman kami sekeluarga berjuang melawan covid-19, aku hanya bilang penyakit ini memang ada, dan penularannya sangat cepat, jadi kami memohon kepada siapa saja disana ayo terus taat prokes. Ayo jaga keluarga kita, saudara kita anak kita. Pakai Masker baik dalam kondisi sehat maupun kurang sehat.

Kita semua memang tidak menunggu giliran, tapi jangan sampai kalian yang sehat dan abai menjadi selanjutnya...Naudzubillah!

Pengalaman kami sekeluarga diatas sedikit dari banyak hal yang kami lakukan hingga badan kami lelah, fikiran kami kacau, hanya doa dan doa terus kami panjatkan kepada Pemilik Hidup Tuhan Yang Maha Esa agar terus menjaga kedua orantua kami, menjaga anak kami dan keluarga kami.

 Kami ucapkan terimaksih kepada Keluarga, Sahabat, Rekan kerja atas doa dan bantuannya. Terimakasih kepada Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, Dirut dan Perawat RS Delta Surya yang menjaga orangtua kami, memang semua tidak ada sempurna dari segi fasilitas dan kenyamanan perawatan tapi kami sangat berterimakasih atas perhatian kepada kedua orangtua kami. Semoga Tuhan memabalas dan selalu diberikan kesehatan saat bertugas.