Hari yang melelahkan akhir bulan Juni hingga awal Juli lalu. Disaat
tersebut Tuhan memberikan cobaan untuk keluarga. Kami sekeluarga berjuang
melawan covid-19. Aku tidak menyangka kami sekeluarga positif Covid-19.
Protokol Kesehatan sejak awal pandemi kami selalu taati dikala lingkungan tidak
banyak mendukung dan menganggap remeh virus ini.
Awal Mula Kontak Orang Konfirm Positif
Melonjaknya angka penyebaran
virus covid 19 di Indonesia membuat tidak ada tracking penularan virus darimana. Jika diawal mudah dikenali dan
sebagian golongan yang mulai terpapar. Namun ternyata virus ini sudah tidak
memandang status dan jabatan sosial, semua bisa terpapar.
Begitu pula yang kami rasakan.
Selama ini kami bepergian selalu menggunakan masker, cuci tangan dan menjaga
jarak. Namun ternyata Tuhan juga memberikan penyakit itu kepada kami.
Awal mulanya kami kontak dengan
orang confirm positif covid 19 tanggal 4 Juni 2021. Kami pun tidak sengaja
kontak erat saat itu, karena yang bersangkutan adalah sepupu yang sedang
melangsungkan pernikahan dan kami tidak mengetahui bahwa dia sudah mulai tidak
merasakan bau dan tidak bisa merasakan makanan hampir seminggu.
Ketika dia berkunjung ke rumah
kami pasca 3 hari menikah sontak aku pribadi kaget dia ternyata bergejala.
Namun apa daya yang kita harapkan dia jujur dan mau swab tidak disambut baik
dia dan keluarganya. Demi kesehatan dan kepentingan kami sekeluarga yang sudah
"rewang" dan kontak langsung
dengan yang bersangkutan maka saya paksa untuk swab antigen, dan firasat saya
pun benar dia positif garis 2 merah dengan waktu singkat. Saat itu juga demi
pekerjaan saya pun iktu swab antigen dan Alhamdulilah hasilnya negatif.
Mengetahui sepupu comfirm
negatif, kami sekeluarga pun berjaga-jaga untuk menambah imun dengan membali
minuman vitamin C dan susu murni. Kami rutin minum dan juga kedua orangtua
kami.
Sialnya, keluarga sepupu yang
saat itu confirm positif begitu bebal
dan acuh tak acuh, bukannya isolasi mandiri tapi berkeliyaran tidak menggunakan
masker. Berulang kami ingatkan namun juga tak digubris.
Hal ini menjadi pembelajaran bagi
kita semua, jika memang terkonfirm positif jangan malu dan mengakuinya. Lakukan
isolasi mandiri dan terapkan prokes baik didalam rumah maupun diluar, dan
baiknya agar tetap stay at home agak
tidak merugikan orang lain.
Begitu singat awal mula kami
kontak dengan orang confirm positif covid 19. Setelah 14 hari berlalu ternyata
kami sekaluarga tidak ada gejala, syukur alhamdulilah saat itu kami rasakan.
prokes dan minuman meningkat imun terus kami lakukan untuk berjaga-jaga.
Awal Gejala
Setelah 14 hari berlalu tanpa
gejala, ternyata Dihari Sabtu 19 Juni 2021,tiba-tiba sore hari ibu kami
mengalami demam dan pusing yang luar biasa.Saat itu kami mengira hanya kecapean
biasa, ternyata hingga beberapa hari kondisi makin lemas ditambah demam tidak
turun dan mual.
Kami bergantian menjaga dan
merawat beliau. Namun dihari Senin bapak yang menjaga ibu ikut mengalami demam
dan pusing yang luar biasa. Kami sempat kewalahan menjaga orangtua kami karena
aku, kaka mempunyai anak dan juga harus bekerja.
Disaat itu saya sempat berfikir
untuk melakukan swab tapi kami tunda, kondisi ibu semakin lemah dan nafsu makan
turun drastis dan muntah.
Hari Selasa, 20 Juni 2021, pagi
hari saya masih bekerja namun kondisi mulai flu berat meler dan bersin berkali-kali. Rabu malam dinihari biasanya
menggunakan AC tahan dingin, saat itu tiba-tiba mengigil dan sendi-sendi merasa
sakit, demam 38 derajat hingga esok pagi sampai akhirnya saya ijin bekerja.
Seharian nafsu makan berkurang, mulut terasa pahit dan kepala sangat pusing.
Disaat saya dan orangtua
mengalami sakit bergantian, dan membaca beberapa artikel varian delta covid 19
gejala yang kami alami persis demikian.Akhirnya kami memutuskan untuk swab
antigen di Lab swasta.
Jika ada yang bertanya kenapa
harus di Lab Swasta membayar Rp,200 ribu per orang tidak dipuskesmas gratis? Ya karena ada pengalaman
tidak mengeenakan ketika Swab gratis di puskesmas, ini akan saya ceritakan di
artikel selanjutnya ya.
Vonis Positif Aku dan orangtua
Hari Kamis 21 Juni 2021, bapak
ibu swab antigen di lab. Menunggu dengan hati cemas, berharap memang penyakit
biasanya karena ibu mempunyai riwayat diabet dan bapak jantung hipertensi.
Setelah menunggu satu jam hasil
keluar, dengan tangan gematar dan panas dingin. Petugas Lab membeerikan hasil
kedua orangtua kami positif, dan menyarankan untuk melakukan Swab PCR untuk mengetahui seberapa jauh virus
tersebut ada di dalam tubuh orangtua kami.
Saat itu juga aku, kakakku, dan
adik melakukan wab antigen juga. Dari kami bertiga, aku yang bergejala
terkonfirm positif juga. Lemas, bingung, takut campur aduk dan kondisi ibu kami
juga semakin memburuk.
Isoman dan rumah sakit
Rasa sedih, kesal, takut,
bercampur jadi satu. Hati masih menyalahkan oranglain yang jelas-jelas
terkonfirm positif tapi tetap saja mengabaikan prokes dan menyepelakan penyakit
ini. Namun berlahan berdamai dengan diri sendiri, kita tidak tahu darimana
virus itu datang ke keluarga kami, mungkin Tuhan memberikan cobaan ini ada hal
baik yang akan kami dapatkan dibalik musibah ini. Tidak menyalahkan orang lain
atas musibah ini.
Kami sekeluarga berdiskusi
langkah baik apa yang harus kami lakukan untuk merawat oragtua dan kami
sekeluarga. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk membawa Ibu kami dirawat di
rumah sakit bersama bapak kami. kami tidakbisa meninggalkan ibu kami sendiri di
rawat di rumah sakit, psikologisnya akan semakin turun dan jauh dari
kesembuhan, sehingga bapak menemani ibu di RS.
Lonjakan covid semakin tinggi
dibulan Juni, hmpir semua rumah sakit rujukan covid 19 penuh. Meminta bantuan
kolega akhirnya Tuhan memudahkan kami mendapatkan Rumah Sakit. Saat itu RS
Delta Surya bukanlah rujukan Covid 19, namun saat ibu kami akan dibawah kesana
ternyata baru hari itu juga ternyata RS Deltar Surya menjadi rujukan Covid 19.
Syukur Alhamdulilah Tuhan
memberikan kemudahan berobat ibu kami. Di hari kamis Pukul 21.00 WIb kami
membawa orangtua ke RS. Setelah hampir 2 jam di IGD, kedua orangtua kami pindah
ke kamar isolasi.
Satu urusan yang paling darurat
selesai pengobatan kedua orangtua kami, hal lain yang harus kami diskusikan
adalah bagaimana teknis isoman kami sekeluarga, ada 2 anak kecil berusia 18
Bulan. Disaat itu hati fikiran benar-benar campur aduk. Satu sisi harus merasa
bahagia untuk meningkatkan imun, sisi lain harus memikirkan orantua di RS dan
anak.
Setelah berbagai pertimbangan dan
agar tidak menularkan ke anak kami. Akhirnya aku dan kakakku memutuskan untuk
memisahkan sementara kami dengan mereka. Anakku Syahda bersama bude yang bisa
momong saat aku kerja, dan anak Raya pun demikian di rumah tetangga yang
membantu momong setiap harinya.
 |
| Di empat tempat terpisah, hanya via Vidiocall |
Ini pertama kali aku berpisah
dengan anak. Selama ini tidak pernah aku meninggalkan setiap malamnya, hanya
satu hari waktu itu aku tinggal ke Jakarta dan begitu sedih dan kesepiannya
saat itu. Nah ini harus aku relakan untuk beberapa hari.
 |
| Dibalik Kaca Kamar Melihat Orangtua kami |
Aku lakukan isolasi mandiri di
rumah dengan kakak, adik dan kakak ipar. Namun ternyata virus ini memang benar
cepat sekali menular. Dari kakak ipar mulai bergejaladan akhirnya swab psoitif
covid. Adik yang awalnya sehat bergantian bergejala demam, batuk dan flu. Karena
yakin swab antigen hasilnya positif kami menunggu isolasi mandiri selama 2
minggu.
Hari begitu berat dan memang
ketika memberikan saran kepada oranglain begitu mudah tapi disaat kita yang
menjalani begitu sulit. Aku paksa makan meskipun tidak enak dan sempat hilang
rasa satu hari, obat dan vitamain aku minum sekaligus hingga jantung panas dan
berdetak kencang, ikhtiar agar cepat pulih ternyata langkah yang salah memakan
berbagai macam vitamin. Setiap tubuh manusia memiliki daya tahan tubuh yg
berbeda dengan obatan-obatan kimia, ini yang bisa aku ambil hikmahnya, bahwa
tubuh kita tidak sama dengan orang lain. Sesuaikan dengan tubuh kita apa yg
kita minum.
Beberapa hari isoman dirumah
mempersiapkan alat kesehatan seperti oksimeter, termometer untuk mengecek kadar
oksigen dialam paru-paru dan suhu tubuh. Alhamdulilah kondisi berangsur membaik
dihari ke 4. Aku tinggal mengembalikan nafsu makan.
Kondisiku yang membaik, tetapi
tidak dengan kondisi oragtua kami di RS. Kondisi Ibu belum juga membaik di hari
ke 4, bapak pun mulai kelelahan karena harus mengurus ibu dan tidak bisa tidur
selama di RS. Fikiran mulai kalut, bingung dan takut setiap harinya. Hanya doa
dan usaha menanyakan akan penyakit dan kondisi ibu kami agar cepat pulih.
Bagaimana kabar anak? teernyata
selama tidak tidur dengan aku, anak sangat rewel di malam hari karena sudah
terbiasa DBF anak kesulitan tidur dimalam hari harus mencari emaknya.
Alhamdulilah, Berangsur Membaik
Dihari ke tujuh isoman, saya
melakukan swab antigen dan ternyata hasilnya sudah negatif, tapi saya tetap
melakukan isoman dan mengurangi bepergian hanya datang ke rumah sakit
membawakan makanan untuk orangtua. Disaat itu pula kondisi ibu kami membaik.
Ohya saat itu sudah dilakukan
Foto Thorax 2 kali dan paru-paru kedua orangtua kami bagus dan tidak mengalami
pneumonia jadi kesembuhan dari covid 19 cepat, hanya memulihkan riwayat
penyakit diabet ibu kami yang cukup lama.
Dihari ke 8 orangtua kami
diperbolehkan pulang dan melakukan isolasi mandiri. Dan Alhamdulilah sekarang
dalam masa pemulihan.
Dari pengalaman kami sekeluarga
berjuang melawan covid-19, aku hanya bilang penyakit ini memang ada, dan
penularannya sangat cepat, jadi kami memohon kepada siapa saja disana ayo terus
taat prokes. Ayo jaga keluarga kita, saudara kita anak kita. Pakai Masker baik
dalam kondisi sehat maupun kurang sehat.
Kita semua memang tidak menunggu
giliran, tapi jangan sampai kalian yang sehat dan abai menjadi selanjutnya...Naudzubillah!
Pengalaman kami sekeluarga diatas
sedikit dari banyak hal yang kami lakukan hingga badan kami lelah, fikiran kami
kacau, hanya doa dan doa terus kami panjatkan kepada Pemilik Hidup Tuhan Yang
Maha Esa agar terus menjaga kedua orantua kami, menjaga anak kami dan keluarga
kami.
Kami ucapkan terimaksih kepada
Keluarga, Sahabat, Rekan kerja atas doa dan bantuannya. Terimakasih kepada
Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, Dirut dan Perawat RS Delta Surya yang
menjaga orangtua kami, memang semua tidak ada sempurna dari segi fasilitas dan
kenyamanan perawatan tapi kami sangat berterimakasih atas perhatian kepada
kedua orangtua kami. Semoga Tuhan memabalas dan selalu diberikan kesehatan saat
bertugas.